LOGO BINTANG PELAJAR

Announcement Scroller

Stay updated with all our latest news enter your e-mail address here

Delivered by FeedBurner

Bunuh Diri Bukan Solusi
Bunuh Diri Bukan Solusi

gaulislam edisi 209/tahun ke-5 (26 Dzulqaidah 1432 H/ 24 Oktober 2011)

Bagi kamu yang ngefans sama drama Korea atau semua yang berbau Korea, tentunya mengenal Cha Dong Hae. Yup, doi adalah mantan anggota SG Wannabe (grup paling populer di Korea). Kenapa dia? Bunuh diri! Hmm.. kian menambah panjang daftar selebritis Korea yang meninggal bunuh diri. Hae memang dikabarkan menderita depresi berat setelah dua tahun lalu ditinggal mati manajernya — yang juga bunuh diri di sebuah hotel.

Bro en Sis, sejak tahun 2005, selain Cha Dong Hae, tercatat ada 9 seleb Korea yang bunuh diri, termasuk Park Yong-ha, aktor Korea yang dikenal lewat serial Winter Sonata ini ditemukan tewas bunuh diri di rumahnya. Dia menggantung diri menggunakan kabel charger telepon genggam. Berikut daftar selebritis Korea yang memilih bunuh diri: Lee Eun-ju, 2005 (aktris). Sahabat dan temannya mengatakan bahwa Eun-ju mengalami depresi yang akut. U-Nee, 2007 (penyanyi). Kabarnya dia mengalami depresi dan tekanan luar biasa dari fansnya di internet. Jung Da-bin, 2007 (bintang televisi). Depresi.

Di tahun 2008, ada Ahn Jae-hwan (aktor). Utangnya segede gunung ke lintah darat, bisnisnya bangkrut, akhirnya dia memutuskan bunuh diri. Choi Jin-sil, 2008 (artis). Depresi setelah bercerai. Bebannya kian berat saat ia dituduh  di internet sebagai salah satu pihak yang menyebabkan Ahn Jae-hwan bunuh diri. Jang Ja-yeon, 2009 (model dan artis). Dalam catatan bunuh dirinya, Jang Ja-yeon mengatakan ia sering dipaksa untuk “melayani” petinggi di bidang hiburan.

Pada 2010, Kim Daul (model) melakukan bunuh diri di Prancis setelah merasa tekanan dunia model terlalu berat baginya. Choi Jin-young, 2010 (aktor dan penyanyi). Bunuh diri setelah menderita akibat kematian adik tercintanya. Park Yong-ha, 2010 (aktor dan penyanyi). Ia bunuh diri akibat depresi harus mengatur masalah karir dan bisnis di samping merawat kedua orang tuanya yang sakit parah.

 

Popularitas dan depresi

Menurut catatan Organization for Economic Cooperation and Development, 21 dari 100 ribu orang Korea melakukan bunuh diri—melewati batas normal yaitu 11.

Hwang Sang-Min, seorang psikolog dari Universitas Yonsei, mengungkapkan bahwa orang Korea cenderung membentuk identitas mereka sesuai pandangan orang lain terhadap dirinya. Nah, ketika sang seleb nggak lagi mampu menunjukkan citra baik dan tenang, mereka cenderung frustrasi, menyerah, dan mengambil pilihan drastis — salah satunya adalah bunuh diri.

Lho, memangnya nggak ada konseling, gitu? Hmm.. konon kabarnya budaya Korea yang cenderung tertutup juga membuat para selebritis itu malu jika ketahuan publik saat pergi ke konseling atau sedang mengalami depresi.

Kok begitu rapuhnya sih, memangnya nggak punya keyakinan agama gitu? Bro en Sis, hampir setengah penduduk Korea tidak memiliki agama, sehingga ketika mereka mengalami depresi, penghargaan terhadap nilai kehidupan pun rendah. Ckckck… alhamdulillah yah kita mah punya keyakinan hidup, yakni Islam, sehingga nggak mudah putus asa dan depresi dalam menghadapi kenyataan hidup yang pahit.

Bro en Sis pembaca setia gaulislam, sebenarnya mereka yang melakukan bunuh diri banyak juga lho di negeri kita, bahkan dilakukan oleh remaja. Angka kasus bunuh diri pada kalangan anak hingga remaja di Indonesia termasuk tinggi di Asia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia WHO, pada 2005 tercatat 50 ribu penduduk Indonesia bunuh diri setiap tahun. Dari kejadian kasus bunuh diri tersebut, ternyata kasus yang paling tinggi terjadi pada rentang usia remaja hingga dewasa muda, yakni 15-24 tahun.(www.kbr68h.com)

Nah, perlu diketahui juga bahwa remaja putra lebih rentan untuk melakukan bunuh diri ketimbang remaja putri. Maksudnya, anak cowok tuh kalo ngelakuin bunuh nggak tanggung-tanggung, misalnya gantung diri. Kalo anak cewek palingan minum racun serangga. Itu pun kalo isinya nggak ketuker ama sirop. Hehehe..

Pakar Kejiwaan dari Rumah Sakit Marzuki Mahdi, Bogor, Eka Viora memaparkan, kasus bunuh diri yang terjadi lebih banyak dilakukan oleh remaja putri dibanding putra. Namun, ia menambahkan, ‘tingkat keberhasilan’ bunuh diri pada remaja putra lebih besar jika dibandingkan dengan percobaan bunuh diri yang dilakukan remaja putri.

Remaja putra umumnya menggunakan metode yang lebih mematikan, seperti gantung diri. Sementara remaja putri memiliki kecenderungan menggunakan metode bunuh diri yang lebih ‘halus’ misalnya dengan meminum racun serangga. (www.kbr68h.com)

Kalo para seleb nggak kuat menahan popularitas dan pencitraan diri, kemudian depresi dan memutuskan bunuh diri, maka umumnya orang di Indonesia (termasuk di dalamnya para remaja) melakukan bunuh diri karena putus cinta, ditinggal pacar, punya penyakit tak kunjung sembuh, dililit utang, suaminya selingkuh, dan masalah lainnya yang membawanya depresi lalu bunuh diri.

 

Jangan nekat bunuh diri

Idih, serem banget deh. Masa’ sih kita nekat bunuh diri. Nggak sayang banget tuh sama tubuh kita sendiri. So, itu namanya nggak cinta sama tubuh kita. Iya nggak sih? Meskipun memang yang dilukai or dibunuh adalah tubuh kita sendiri, tapi kan tetap tubuh itu bukan milik kita. Tubuh itu hakikatnya adalah milik Allah Swt. Dia telah memberikan amanah kepada masing-masing kita dalam merawat tubuh kita. Suatu saat kelak kita bakalan dimintai tanggung jawab dalam menjaga amanah tubuh ini. Lha, kalo tiba-tiba bunuh diri, apa itu nggak mengkhianati pemberi amanah? Perlu diragukan tuh kecintaan ama diri sendirinya kalo ternyata dia malah mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Betul ndak?

Boys and gals, banyak teman kita mengakhiri hidupnya hanya gara-gara hal yang sebenarnya masih mungkin untuk bisa dicarikan jalan keluarnya yang benar dan baik. Bukan dengan cara minum racun serangga atau gantung diri. Seringkali yang kita dapatkan infonya dari media massa ada anak SD yang bunuh diri dengan cara menggantung dirinya karena ribut sama adiknya ketika rebutan nonton acara televisi. Ada juga anak SMP yang bunuh diri karena sering dimarahi sama ibunya. Ia merasa terhina dan tertekan akhirnya gantung diri. Malah ada juga yang bunuh diri minum racun serangga karena putus cinta. Walah… macem-macem alasannya.

Buat kamu yang masih hidup saat ini (tentu dong, kalo yang udah meninggal mana bisa baca artikel ini hehehe..), jadikan pelajaran deh nasib beberapa teman kita (termasuk para seleb Korea yang gaya mereka kini digandrung remaja macam kamu) yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Nggak usah ditiru. Bercita-cita pun jangan dong ya. Nggak baik dan emang nggak benar menurut ajaran agama kita, Islam.

Bro en Sis, jika kita memang cinta sama tubuh kita dan jiwa kita, ketika ada masalah ya kita obrolkan baik-baik. Jangan nekat mengakhiri hidup. Lagian, apa kemudian selesai urusan kita? Di dunia bisa jadi selesai. Tapi kehidupan kita kan bukan cuma di dunia ini. Ada kehidupan setelah kematian. Yup, di akhirat kita akan dikumpulkan pada hari perhitungan. Nah, lho gimana pertanggungan jawab kepada Allah Swt. nanti ? Sementara kita tak punya bekal amal baik yang banyak. Tolong direnungkan ya, dipikirkan dengan benar dan baik, hitung nilai kerugiannya di akhirat kelak.

 

Bunuh diri itu konyol

Bro, rasanya kita pantas untuk mikir seribu kali dan nggak bakalan nekat bunuh diri. Sebab, bunuh diri tuh dilarang dalam ajaran Islam. Allah Swt. sudah menjelaskan tentang larangan melakukan bunuh diri. Seperti dalam salah satu ayat di al-Quran: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS an-Nisaa` [4]: 29)

Rasulullah saw. juga bersabda, “Barangsiapa yang mencekik lehernya, ia akan mencekik lehernya sendiri di neraka. Dan barang siapa yang menusuk dirinya, ia akan menusuk dirinya sendiri di neraka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sobat, bunuh diri bukan saja tindakan konyol tapi jelas berdosa. Dalam hadis lain, Rasulullah saw. juga ber­sab­da,“Barangsiapa bunuh diri dengan meng­gunakan besi yang tajam, maka alat yang digu­nakannya itu akan dihunjamkan ke dalam perut­nya kelak di hari kiamat dalam api neraka; di dalamnya ia kekal abadi. Barangsiapa bunuh diri dengan meminum racun, maka kelak dalam api jahanam racun tersebut akan diminum dengan tangannya; di dalamnya ia kekal abadi. Barang­siapa yang terjun dari sebuah gunung (tempat yang tinggi) untuk bunuh diri, maka ia akan terjun di dalam api neraka; di dalamnya ia kekal abadi.” (HR Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah ra; dalam al-Fath al-Kabir, III/224)

Bunuh diri hanya dilakukan oleh orang-orang yang nggak memiliki iman, atau setidaknya memiliki iman tapi nggak berfungsi untuk mencegah dirinya berbuat nista. Padahal, manusia yang masih hidup pasti banyak ujian kehidupan, dan sering perih. Namun, bila kita beriman, tetap sabar, tetap berusaha dan tawakkal, insya Allah ada jalan keluar. Jangan berputus asa dari rahmat Allah Swt. Tetap semangat untuk menggapai ridho dan rahmat Allah Swt, meski hidup sulit.

Oke deh, semoga kita jadi makin hati-hati dalam hidup ini. Nggak putus asa dan nggak nyari jalan pintas dengan cara bunuh diri untuk lepas dari masalah yang menjerat kehidupan kita. Terus terang itu nggak menyelesaikan masalah. Bahkan nimbulin masalah baru, yakni dosa. So, kalo emang cinta sama diri sendiri, jangan nekat bunuh diri. Jangan cuma ngaku-ngaku cinta sama diri sendiri, kalo akhirnya nekat bunuh diri. Itu cinta palsu, atau memang kadar cintanya sedikit banget. Waspadalah! [solihin | Twitter: @osolihin]


 
::. Allhamdulillah dan Selamat atas diterimanya Ananda di PTN Favorit : Fatimah Alifha (SMAN 6 Bogor, diterima di IPB - Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat) -- Milenia Tadhita SNR (SMAN 3 Bogor, diterima di Unpad – Psikologi) -- Muhammad Rahman Amrullah (SMAN 3 Bogor, diterima di ITB – FTTM) -- Raja Mula Teguh Wirandio (SMAN 3 Bogor, diterima di UI - Teknik Industri) -- Rifky Khoeruddin (SMAN 3 Bogor, diterima di IPB - Teknologi Pangan) -- Shabrina Shaliha (SMAN 3 Bogor, diterima di UI - Pendidikan Dokter) -- Silke Ramadhani Tresnatri (SMAN 3 Bogor, diterima di UI – FKG) -- Syifa Amalia (SMAN 3 Bogor, diterima di UI – Farmasi) -- Ivana Calista Brata (SMAN 1 Bogor, diterima di UI - Administrasi Niaga) -- Muhammad Reinaldi (SMAN 1 Bogor, diterima di Unpad- Televisi dan Film) -- Abiyu Muhammad Akmal (SMAN 1 Bogor, diterima di UI - Sistem Informasi) -- Annisa Ayu Saputri (SMAN 3 Bogor, diterima di UNPAD - Kedokteran Gigi) -- Farah Miranti Farizi (SMAN 1 Bogor, diterima di UNPAD - Pendidikan Dokter) -- Farih Afdhahul Ihsan (SMAN 5 Bogor, diterima di IPB – Manajemen) -- Karima Putri Mahdiyah (SMAN 1 Bogor, diterima di IPB – Agribisnis) -- Vanessa Zahra (SMA Dwi Warna Bogor, diterima di UNPAD – Kedokteran Gigi) -- Vicky Pratiwi (SMAN 3 Bogor, diterima di IPB – Teknologi Industri Pertanian) -- Alyssa Nadira Salsabila (SMAN 1 Bogor, diterima di IPB - Kedokteran Hewan) -- Yanathifal Salsabila (SMAN 9 Bogor, diterima di UI – Manajemen) -- Andini Putri Salma (SMAN 3 Bogor, diterima di UI – Vokasi Komunikasi) -- Annisa Aniza (SMAN 2 Bogor, diterima di IPB – Sekolah Bisnis) -- Ayu Batari (SMAN 5 Bogor, diterima di UNPAD – Ilmu Kesejahteraan Sosial) -- Chanisiyah Lintang (SMAN 2 Bogor, diterima di UI – Kimia) -- Hafizah Putri Ramadhani (SMAN 2 Bogor, diterima di UNPAD – Agribisnis) -- Khalisha Farhanan (SMAN 5 Bogor, diterima di UI – Ilmu Komunikasi) -- Lazuardi Ilyasa  Iskandar (MAN 2 Bogor, diterima di UNPAD – Ilmu Hukum) -- Milenia Ihsanti Suwarna (SMAN 2 Bogor, diterima di IPB – Agribisnis) -- Natsumi Jati Putri (SMAN 5 Bogor, diterima di UI – Manajemen) - Syelin Pratika Sanindita (SMAN 5 Bogor, diterima di UI – Sastra Korea) -- Aditya Taufiq R (SMAN 2 Bogor, diterima di IPB – Manajemen) -- Tissa Willavia (SMAN 1 Bogor, diterima di UNPAD – Pendidikan Dokter) -- Vida Zinia Putri H (SMAN 3 Bogor, diterima di UI – Teknik Kimia) -- Andina Eka Prihertanti (SMAN 1 Cibinong, diterima di UI - ) -- Risyad Pangestu (SMAN 1 Bogor, diterima di UNPAd – Teknik Informatika) -- Ika Keumala Fitri (SMAN 1 Bogor, diterima di ITB – MIPA) -- Milka Zahra Cholilla (SMAN 1 Cibinong, diterima di UI – Perpajakan) -- Muhammad Fauzan (SMAN 2 Cibinong, diterima di UI – Akuntansi) -- Abimanyu Prabaswara (SMA Labschool Rawamangun, diterima di UI – Manajemen KI) -– Ariani Bakhitah (SMAN 54 Jakarta, diterima di UI – Kimia) -- Ariq Dmitri Andrei (SMA Labschool Rawamangun, diterima di UGM – Hubungan Internasional) -– Muhammad Berdauno (SMA Labschool Rawamangun, diterima di UGM – Bisnis) – Nadira Syafira (SMA Diponegoro 1, diterima di UI – Perumahsakitan Vokasi) -- Nurul Syafithri (SMAI  Al Azhar 1 , diterima di ITB – FMIPA) -- Adinda Hasna Rahmadia (SMA Labschool Rawamangun, diterima di UI – Bahasa dan Kebudayaan Korea) - Maharani Apta C. (SMAN 11 Jakarta, diterima di UI – Sastra Cina) – Altezza (Sevilla Gloal School, diterima di ITB – FMIPA) -- Farros Ahmadi Praja (Khalifa International Islamic School, diterima di ITP – FTTM) -- Muhammad Rustam (-, diterima di UI – Manajemen) -- Fitria Ghaisani (SMAI Al Azhar 4, diterima di ITB – SBM) -- Ghina Rabbani Wasito (SMAI Al Azhar 4, diterima di UNPAD – Ilmu Politik) - Nathalia Syafira (SMAI Al Azhar 4, diterima di UNPAd – Film dan Televisi) -- R. Arif Adi Nugroho (SMAI Al Azhar 4, diterima di ITb – SBM) -- Sallimatu Diniyah (SMAI Al Azhar 4, diterima di UNPAD – Ilmu Perpustakaan) – Satrio (SMAI Al Azhar 4, diterima di UNPAD – Ilmu Ekonomi Islam) -- Wydiana Tri Destiawati (SMAI Al Azhar 4, diterima di UNPAD Ilmu Pemerintahan) -- Amal Adiguna (SMAN 82 Jakarta, diterima di UI – Ilmu Komputer) -- Arnindito Rizhandi (SMAN 70 Jakarta, diterima di UI – Teknik Kimia) -- Dzaki Ridho (SMAI Al Azhar 3, diterima di UI – Teknik Perkapalan) -- Farras Yoga Purnama (SMAN 99 Jakarta, diterima di UI – Teknik Kimia) -- Ivan Prakasa Dharmawan (Global Mandiri, diterima di ITB – FTSL) -- Monic Provi Dewinta (SMAN 48 Jakarta, diterima di UI – Ilmu Administrasi Fiskal) -- Salsa Fadhillah (SMAN 78 Jakarta, diterima di UI – Teknik Elektro) -- Farah Fabriana (SMAN 34 Jakarta, diterima di UI – Arsitektur) - Raniah Amirah S (SMAN 34 Jakarta, diterima di UI – Sastra Jerman) -- Anisa Farisdayanty (SMAN 5 Bekasi, diterima di UI – Akuntansi D3) - Eka Yusmeiliana K (SMA PB Soedirman, diterima di UI – Perumahsakitan) -- Muhammad Alif Firdi D (SMA Darussalam Cikunir, diterima di IPB – Ilmu Teknik Perkapalan) -- Tiara Ariake Shalsabila (SMA PB Soedirman, diterima di ITB – SITH) -- M. Syauqi (-, diterima di IPB – Argobisnis) – Tsabita (-, diterima di IPB – SITH) -- Larasati Dwi Rizqiqa (SMA President School Jababeka, diterima di UNPAD – Ilmu Hukum) -- Ferzadela Haniza Y (SMAN 1 Bekasi, diterima di UI – Administrasi Asuransi dan Aktuaria) -- Mochamad Racka Nugroho (SMAN 1 Bekasi, diterima di UI – Teknik Industri Internasional) -- ARHAM RIZKY ATHALLAH (-, diterima di ITB – FTMD) -- Farhan Aditya Wibowo (SMAN 68, diterima di UI – Teknis Mesin) -- Syifa Amirta Sani (SMAN 3 Bogor, diterima di UI – farmasi) -- Naufal Ihsan Kamal (SMAN 34 Jakarta, diterima di UI – Teknik Mesin) -- Sarah Aminah Kherid (SMAN 2 Tangsel, diterima di UI – Farmasi) -- Ashkia Nur Yasyifa (-, diterima di UI) -- Putri Shabrina (MAN 13 Jakarta, diterima di IPB Kimia) -- Jasmine Humaira (SMAN 3 Depok, diterima di UI – Teknik Kimia) -- Naura Nafisha (SMAN 2 Depok, diterima di UI – Ekonomi) -- Amara Thifaal Nadhira (SMAN 2 Depok, diterima di UNPAD – Ilmu Hukum) .::