LOGO BINTANG PELAJAR

Announcement Scroller

Stay updated with all our latest news enter your e-mail address here

Delivered by FeedBurner

Ingat! Pacaran Itu Berbahaya
Ingat! Pacaran Itu Berbahaya

gaulislam edisi 331/tahun ke-7 (24 Rabiul Tsani 1435 H/ 24 Februari 2014) Remaja mana yang tak pernah mendengar istilah pacaran? Mulai remaja perkotaan hingga pelosok desa, pasti pernah mendengar istilah ini. Tak peduli apakah ia bersekolah di sekolah umum yang serba bebas hingga pesantren yang identik dengan dunianya yang serba ketat dan terbatas. Semua pasti pernah mendengar istilah ini. Termasuk mungkin kamu yang saat ini baru membaca buletin gaulislam ini.

Lalu, dari sekian banyak remaja yang pernah mendengar istilah pacaran ini, berapa banyak sih yang ikut ‘ambil bagian’ di dalamnya? Baik itu para ‘eksekutor’ lapangan hingga simpatisannya? Jumlahnya ternyata banyak sekali alias mayoritas. Tapi mudah-mudahan, kamu bukan termasuk di dalamnya ya.

Sobat gaulislam, mungkin kamu bertanya-tanya, maksud eksekutor dan simpatisan pacaran itu apaan? Kok pacaran saja ada eksekutor dan simpatisannya? Bukankah eksekutor itu semacam algojo yang memenggal leher orang? Sedangkan simpatisan itu kan biasanya ada ketika musim pemilu.

Ah, sebenarnya itu hanya istilah saya saja. Eksekutor itu tepatnya pelaku utama pacaran. Dua orang yang katanya sedang dilanda cinta, dan menyalurkan cintanya tidak pada tempat dan waktu yang tepat. Disalurkan dengan rayu-rayuan, gandeng-gandengan, cipika-cipiki, hingga hubungan intim layaknya suami istri. Padahal mereka belum menikah. Naudzubillah.

Sedangkan simpatisan adalah mereka yang tidak sedang aktif melakukan pacaran karena berbagai sebab. Misalnya karena tidak laku, sudah menikah, dilarang ortu, dan lain sebagainya. Tapi mereka ini keukeuh sekali dalam menyebarkan dan mensosialisasikan ‘doktrin’ pacaran. Para simpatisan ini bisa berasal dari berbagai kalangan dan usia. Misalnya saja, guru, teman, bahkan kadang dari orang terdekat kita semisal saudara dan orang tua.

Maka berhati-hatilah. Eksekutor dan simpatisan pacaran ini, selain saat ini mayoritas, mereka juga menyebar alias ada di mana-mana. Bisa di sekolah, di kampus, di tempat kerja, di hotel, di kafe, di taman kota, di ladang, di balik rimbunnya pohon pisang. Halah!

Yang jelas, mereka bisa saja berada sangat dekat denganmu. Bisa sahabatmu hingga saudara dan orang tuamu. Mereka bisa saja makan satu meja denganmu. Tapi dari lisan mereka keluar berbagai pertanyaan, pernyataan, dan ajakan yang menggiring ke arah perbuatan nista bernama pacaran ini. Misalnya; “segede ini kok masih jomblo?” Atau “Kami khawatir kamu jadi perawan tua.” Atau “sebenarnya banyak yang naksir kamu.” Atau mungkin “Aku tak tega melihatmu sendiri. Jadilah pacarku.”

Beuh! Lihatlah, pertanyaan, pernyataan, dan ajakan itu seolah menebarkan aroma yang harum semerbak. Seolah menggambarkan simpati, kepedulian, dan perhatian. Padahal ketahuilah kawan, semuanya itu sejatinya hanyalah sampah belaka. Sampah beracun nan berbahaya yang jika engkau tergoda menelannya mentah-mentah, maka jalan hidupmu akan terseok-seok dalam sebuah jalan yang hina. Yang pada akhirnya akan menuntunmu dalam jurang kehancuran dan penyesalan yang dalam.

Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS al-Isra: 32)

Mungkin akan ada yang berkilah bahwa pacaran itu bukanlah zina. Oke. Tetapi coba kita renungkan, akankah dua orang insan akan jatuh pada zina seandainya mereka tidak pacaran? Akankah mereka akan jatuh pada perbuatan zina jika sebelumnya mereka jarang bertemu, tidak pernah bersentuhan, tidak pernah saling merayu, juga tidak pernah saling peluk dan cium? Jawabannya tidak.

Maka berdasarkan ayat di atas, maka pacaran memang bukan zina, tapi ia lebih ke arah perbuatan mendekati zina. Dan sebagaimana Allah melarang zina, Dia juga melarang manusia dari perbuatan mendekati zina alias pacaran ini. Boleh dikata, pacaran adalah pintu gerbang menuju zina.

 

Mengapa tetap pacaran?

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Namun sayang beribu sayang, meskipun Allah telah melarang manusia dari pacaran dan melakukan zina, akan tetapi masih saja banyak yang ‘doyan’ melakukannya. Menganggap segala larangan dan ancaman dari Allah sebagai angin lalu saja. Seolah-olah mereka tidak pernah mendengar larangan berpacaran ini sebelumnya.

Okelah, mungkin bisa dimaklumi seandainya yang melakukan pacaran adalah mereka yang tidak tahu bahwa pacaran itu haram. Tidak pernah mendapatkan informasi bahwa Allah melarang perbuatan ini. Namun akan sangat disayangkan jika yang melakukannya adalah mereka para remaja muslim yang pernah mendengar perihal larangan mendekati zina ini. Masihkah ada di hatinya rasa takut pada Allah Ta’ala? Ataukah mereka tidak sadar bahwa perbuatan ini tak ubahnya sebagai bentuk pembangkangan terhadap Pencipta mereka?

Mari kita ambil sebuah perumpamaan. Taruhlah misalnya ayah kita melarang kita merokok. Namun perintah itu malah kita abaikan. Kita malah merokok dan mengembuskan asapnya tepat di wajah ayah kita itu. Maka apa maknanya itu?

Maknanya adalah, kita menganggap adanya ayah kita sama dengan tidak adanya. Itu juga salah satu bentuk pembangkangan. Seolah-olah kita berkata pada ayah kita, “Siapa loe? Berani nglarang gue.”

Begitu pula dengan larangan Allah. Ketika Allah Ta’ala sudah melarang sesuatu dan kita tetap melakukannya, maka itu sama artinya kita menyepelekan Allah. Menganggapnya tidak ada. Atau menganggapnya ada tapi sengaja membangkang pada-Nya. Maka kalau sudah seperti ini, apa bedanya kita dengan iblis laknatullah alaih?

Padahal, Allah Ta’ala menurunkan Islam ini bukanlah untuk membuat susah hidup manusia. Islam ini diturunkan ke bumi sebagai bentuk nyata kecintaaan Allah pada manusia. Jika Allah memerintahkan sesuatu, maka pasti ada kebaikan di balik sesuatu itu. Begitu pula ketika Allah melarang sesuatu, pasti ada suatu bahaya atau hal-hal negatif yang akan terjadi manakala manusia melanggar larangan itu.

Begitu pula dengan pacaran ini. Allah Ta’ala melarang aktivitas ini karena ia menyimpan bahaya. Bahaya yang bisa saja menimpa manusia di dunia, lebih-lebih bahaya yang akan menimpanya ketika di akhirat.

Taruhlah di dunia seorang remaja melakukan pacaran. Maka yang pertama terenggut darinya adalah kesucian dan harga diri. Ia telah membiarkan harga dirinya diacak-acak dengan membiarkan orang asing yang masih bukan siapa-siapanya menyentuh dirinya atau bahkan lebih dari itu. Jika sudah seperti ini, maka ibaratnya, istri atau suami kita yang sesungguhnya kelak hanya akan menerima bekasnya alias sisa-sisanya saja.

Belum lagi ketika terjadi kehamilan di luar nikah. Karena belum ada ikatan pernikahan, maka biasanya rasa tanggung jawab rendah sekali atau bahkan hilang. Akhirnya terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan. Hal yang pertama terjadi biasanya aib atau cap buruk dari masyarakat. Masyarakat akan memandang seorang perempuan yang hamil di luar nikah adalah perempuan murahan yang hina.

Persoalan akan semakin runyam manakala si pacar yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab. Banyak kasus hamil di luar nikah yang mana pasangan laki-lakinya memillih kabur. Hilang entah ke mana.

Maka pada akhirnya, banyak perempuan yang memilih jalan menggugurkan kandungannya alias aborsi. Menghancurkan dan mengeluarkan janinnya secara paksa. Membuatnya berakhir di tempat sampah.

Padahal bagaimana pun juga, aborsi ini sama saja dengan membunuh. Menghilangkan nyawa dari makhluk kecil yang tidak tahu apa-apa. Tidak tahu sebab musabab kenapa dia harus dibunuh. Padahal kedua mata mungilnya saja belum sempat terbuka dan memandang dunia ini. Kejam sekali, bukan?

Itu baru contoh bahaya yang yang akan didapatkan di dunia. Sebenarnya masih banyak lagi hal-hal buruk yang akan didapatkan di dunia. Belum lagi bahaya yang menunggu di akhirat. Melanggar larangan Allah, bukanlah sesuatu hal yang sepele. Allah Maha Adil. Jauh lebih adil dari hakim mana pun di dunia ini. Dia tidak akan melewatkan pelanggaran sekecil apa pun. Akan membalasnya dengan siksa-Nya yang pedih.

Maka sebelum semuanya terlambat, sebelum napas sampai di kerongkongan, ayo tinggalkan perbuatan mendekati zina alias pacaran ini. Sungguh sobat, bahaya atau mudharatnya itu sangatlah besar. Tidak hanya bahaya di dunia, belum lagi bahaya di akhirat.

Sobat gaulislam, bertobatlah segera. Jika saat ini kamu sedang mencintai seseorang dan berpacaran dengannya, maka segeralah menikah dengannya. Atau jika tidak, segera tinggalkan pacarmu itu. Putuskan hubungannya. Mari mendekat pada-Nya. Pasti kamu akan selamat. Selamat di dunia, lebih-lebih lagi selamat di akhirat.

Dan buat kamu yang hingga saat ini belum pernah berpacaran, pertahankan prestasimu itu. Jangan pernah sekalipun tergoda dengan bujuk rayu gombal nan manis. Menjomblo itu jauh lebih baik daripada menjerumuskan diri dalam pacaran. Karena sekali lagi ingatlah, pacaran itu bahaya.

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Daripada kamu sibuk dalam persoalan yang hina dan nista itu, sangat baik bila fokuskan jalan hidupmu untuk beribadah dan belajar dengan baik. Tuntutlah ilmu setinggi mungkin. Jadilah remaja yang shaleh/shalehah yang penuh dengan taburan prestasi. Baik itu prestasi di sekolah, maupun prestasi ibadah kepada Allah. Jika kamu bisa menjalaninya dengan benar dan baik, insya Allah kamu akan mendapatkan masa depan yang gilang gemilang. Prestasi hebat yang membanggakan. Baik itu masa depan di dunia maupun masa depan di akhirat. Oke? Siap! [Farid Ab]


 
::. Allhamdulillah dan Selamat atas diterimanya Ananda di PTN Favorit : Fatimah Alifha (SMAN 6 Bogor, diterima di IPB - Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat) -- Milenia Tadhita SNR (SMAN 3 Bogor, diterima di Unpad – Psikologi) -- Muhammad Rahman Amrullah (SMAN 3 Bogor, diterima di ITB – FTTM) -- Raja Mula Teguh Wirandio (SMAN 3 Bogor, diterima di UI - Teknik Industri) -- Rifky Khoeruddin (SMAN 3 Bogor, diterima di IPB - Teknologi Pangan) -- Shabrina Shaliha (SMAN 3 Bogor, diterima di UI - Pendidikan Dokter) -- Silke Ramadhani Tresnatri (SMAN 3 Bogor, diterima di UI – FKG) -- Syifa Amalia (SMAN 3 Bogor, diterima di UI – Farmasi) -- Ivana Calista Brata (SMAN 1 Bogor, diterima di UI - Administrasi Niaga) -- Muhammad Reinaldi (SMAN 1 Bogor, diterima di Unpad- Televisi dan Film) -- Abiyu Muhammad Akmal (SMAN 1 Bogor, diterima di UI - Sistem Informasi) -- Annisa Ayu Saputri (SMAN 3 Bogor, diterima di UNPAD - Kedokteran Gigi) -- Farah Miranti Farizi (SMAN 1 Bogor, diterima di UNPAD - Pendidikan Dokter) -- Farih Afdhahul Ihsan (SMAN 5 Bogor, diterima di IPB – Manajemen) -- Karima Putri Mahdiyah (SMAN 1 Bogor, diterima di IPB – Agribisnis) -- Vanessa Zahra (SMA Dwi Warna Bogor, diterima di UNPAD – Kedokteran Gigi) -- Vicky Pratiwi (SMAN 3 Bogor, diterima di IPB – Teknologi Industri Pertanian) -- Alyssa Nadira Salsabila (SMAN 1 Bogor, diterima di IPB - Kedokteran Hewan) -- Yanathifal Salsabila (SMAN 9 Bogor, diterima di UI – Manajemen) -- Andini Putri Salma (SMAN 3 Bogor, diterima di UI – Vokasi Komunikasi) -- Annisa Aniza (SMAN 2 Bogor, diterima di IPB – Sekolah Bisnis) -- Ayu Batari (SMAN 5 Bogor, diterima di UNPAD – Ilmu Kesejahteraan Sosial) -- Chanisiyah Lintang (SMAN 2 Bogor, diterima di UI – Kimia) -- Hafizah Putri Ramadhani (SMAN 2 Bogor, diterima di UNPAD – Agribisnis) -- Khalisha Farhanan (SMAN 5 Bogor, diterima di UI – Ilmu Komunikasi) -- Lazuardi Ilyasa  Iskandar (MAN 2 Bogor, diterima di UNPAD – Ilmu Hukum) -- Milenia Ihsanti Suwarna (SMAN 2 Bogor, diterima di IPB – Agribisnis) -- Natsumi Jati Putri (SMAN 5 Bogor, diterima di UI – Manajemen) - Syelin Pratika Sanindita (SMAN 5 Bogor, diterima di UI – Sastra Korea) -- Aditya Taufiq R (SMAN 2 Bogor, diterima di IPB – Manajemen) -- Tissa Willavia (SMAN 1 Bogor, diterima di UNPAD – Pendidikan Dokter) -- Vida Zinia Putri H (SMAN 3 Bogor, diterima di UI – Teknik Kimia) -- Andina Eka Prihertanti (SMAN 1 Cibinong, diterima di UI - ) -- Risyad Pangestu (SMAN 1 Bogor, diterima di UNPAd – Teknik Informatika) -- Ika Keumala Fitri (SMAN 1 Bogor, diterima di ITB – MIPA) -- Milka Zahra Cholilla (SMAN 1 Cibinong, diterima di UI – Perpajakan) -- Muhammad Fauzan (SMAN 2 Cibinong, diterima di UI – Akuntansi) -- Abimanyu Prabaswara (SMA Labschool Rawamangun, diterima di UI – Manajemen KI) -– Ariani Bakhitah (SMAN 54 Jakarta, diterima di UI – Kimia) -- Ariq Dmitri Andrei (SMA Labschool Rawamangun, diterima di UGM – Hubungan Internasional) -– Muhammad Berdauno (SMA Labschool Rawamangun, diterima di UGM – Bisnis) – Nadira Syafira (SMA Diponegoro 1, diterima di UI – Perumahsakitan Vokasi) -- Nurul Syafithri (SMAI  Al Azhar 1 , diterima di ITB – FMIPA) -- Adinda Hasna Rahmadia (SMA Labschool Rawamangun, diterima di UI – Bahasa dan Kebudayaan Korea) - Maharani Apta C. (SMAN 11 Jakarta, diterima di UI – Sastra Cina) – Altezza (Sevilla Gloal School, diterima di ITB – FMIPA) -- Farros Ahmadi Praja (Khalifa International Islamic School, diterima di ITP – FTTM) -- Muhammad Rustam (-, diterima di UI – Manajemen) -- Fitria Ghaisani (SMAI Al Azhar 4, diterima di ITB – SBM) -- Ghina Rabbani Wasito (SMAI Al Azhar 4, diterima di UNPAD – Ilmu Politik) - Nathalia Syafira (SMAI Al Azhar 4, diterima di UNPAd – Film dan Televisi) -- R. Arif Adi Nugroho (SMAI Al Azhar 4, diterima di ITb – SBM) -- Sallimatu Diniyah (SMAI Al Azhar 4, diterima di UNPAD – Ilmu Perpustakaan) – Satrio (SMAI Al Azhar 4, diterima di UNPAD – Ilmu Ekonomi Islam) -- Wydiana Tri Destiawati (SMAI Al Azhar 4, diterima di UNPAD Ilmu Pemerintahan) -- Amal Adiguna (SMAN 82 Jakarta, diterima di UI – Ilmu Komputer) -- Arnindito Rizhandi (SMAN 70 Jakarta, diterima di UI – Teknik Kimia) -- Dzaki Ridho (SMAI Al Azhar 3, diterima di UI – Teknik Perkapalan) -- Farras Yoga Purnama (SMAN 99 Jakarta, diterima di UI – Teknik Kimia) -- Ivan Prakasa Dharmawan (Global Mandiri, diterima di ITB – FTSL) -- Monic Provi Dewinta (SMAN 48 Jakarta, diterima di UI – Ilmu Administrasi Fiskal) -- Salsa Fadhillah (SMAN 78 Jakarta, diterima di UI – Teknik Elektro) -- Farah Fabriana (SMAN 34 Jakarta, diterima di UI – Arsitektur) - Raniah Amirah S (SMAN 34 Jakarta, diterima di UI – Sastra Jerman) -- Anisa Farisdayanty (SMAN 5 Bekasi, diterima di UI – Akuntansi D3) - Eka Yusmeiliana K (SMA PB Soedirman, diterima di UI – Perumahsakitan) -- Muhammad Alif Firdi D (SMA Darussalam Cikunir, diterima di IPB – Ilmu Teknik Perkapalan) -- Tiara Ariake Shalsabila (SMA PB Soedirman, diterima di ITB – SITH) -- M. Syauqi (-, diterima di IPB – Argobisnis) – Tsabita (-, diterima di IPB – SITH) -- Larasati Dwi Rizqiqa (SMA President School Jababeka, diterima di UNPAD – Ilmu Hukum) -- Ferzadela Haniza Y (SMAN 1 Bekasi, diterima di UI – Administrasi Asuransi dan Aktuaria) -- Mochamad Racka Nugroho (SMAN 1 Bekasi, diterima di UI – Teknik Industri Internasional) -- ARHAM RIZKY ATHALLAH (-, diterima di ITB – FTMD) -- Farhan Aditya Wibowo (SMAN 68, diterima di UI – Teknis Mesin) -- Syifa Amirta Sani (SMAN 3 Bogor, diterima di UI – farmasi) -- Naufal Ihsan Kamal (SMAN 34 Jakarta, diterima di UI – Teknik Mesin) -- Sarah Aminah Kherid (SMAN 2 Tangsel, diterima di UI – Farmasi) -- Ashkia Nur Yasyifa (-, diterima di UI) -- Putri Shabrina (MAN 13 Jakarta, diterima di IPB Kimia) -- Jasmine Humaira (SMAN 3 Depok, diterima di UI – Teknik Kimia) -- Naura Nafisha (SMAN 2 Depok, diterima di UI – Ekonomi) -- Amara Thifaal Nadhira (SMAN 2 Depok, diterima di UNPAD – Ilmu Hukum) .::