LOGO BINTANG PELAJAR

Announcement Scroller

Stay updated with all our latest news enter your e-mail address here

Delivered by FeedBurner

Jangan Ada Lesbian di Sekitar Kita
Jangan Ada Lesbian di Sekitar Kita

gaulislam edisi 215/tahun ke-5 (9 Muharram 1433 H/ 5 Desember 2011) 

Waduh, fenomena menyukai sesama jenis makin marak di kalangan remaja. Bukan hanya di mancanegara, tapi juga merambah Indonesia yang katanya penduduknya mayoritas muslim ini. Kaum Hawa yang fitrah dirinya pemalu juga telah terjangkit penyakit masyarakat yang membahayakan tersebut. Bila dulunya suka sejenis didominasi kaum Adam, saat ini kondisi ini mulai bergeser.

Bro en Sis ‘penggila’ gaulislam, di sebuah situs pribadi internet, seseorang menangkap basah aktivitas lesbian ini. Mereka bermesraan di muka umum tanpa ada rasa canggung. Banyak yang menghujat kegiatan abnormal dan mesum mereka berdua, tapi tak sedikit juga yang bersimpati bahkan menjadi pengikutnya. Benar-benar sudah tak berakal lagi mereka ini.

Seolah-olah menjadi tren sesat, aktivitas menyukai sejenis menjadi idola remaja. Mereka pun tak lagi malu menunjukkan jati diri sebagai lesbian. Lebih jauh lagi, mereka berani menuntut haknya dan meminta diperlakukan sama sebagaimana warga masyarakat lainnya. Yang lebih memalukan, mereka pun asyik-asyik saja bermesraan di muka umum tanpa ada rasa risih sedikit pun. Tak adanya pihak lain yang menegur, membuat sikap lesbian ini makin merajalela. Remaja yang karakternya labil, bukan tak mungkin meniru sikap bejat seperti ini.

Bila dirunut, kasus lesbian ini muncul pasti ada sebabnya. Yuk kita bahas sekaligus temukan solusinya agar generasi muda kita tak terpengaruh dan ikut-ikutan pola hidup rusak ini.

 

Lesbian, sejarahmu dulu dan kini

Di zaman dulu kala, lesbian ini belum pernah ada ceritanya. Yang ada adalah penyuka sesama jenis dari kalangan laki-laki dan telah dimulai sejak zaman Nabi Luth. Istilahnya adalah homoseks. Seiring perkembangan zaman dan santernya isu feminisme dan kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan, lesbianisme pun muncul. Dengan dalih tak mau kalah dari laki-laki, perempuan model begini juga memilih untuk menyukai sesama perempuan. Diperparah dengan langkanya laki-laki baik dan bertanggung jawab, perempuan banyak yang merasa dikecewakan oleh laki-laki. Jadilah mereka mengalihkan kecenderungan seksualnya pada sesama perempuan.

Trauma masa lalu juga bisa menjadi pemicu pelaku lesbian. Menjadi saksi dalam kekerasan ayah terhadap ibu, menjadi korban dalam hubungan dengan laki-laki hingga persepsi salah yang ditanamkan pada diri bahwa laki-laki itu adalah musuh perempuan sehingga tak perlu ada hubungan harmonis dengan mereka. Dalam konteks ini laki-laki diposisikan sebagai musuh dan pihak yang mengancam keberadaan perempuan. Jadilah mereka mencari alternatif dengan mencintai sesama jenis perempuan agar terhindar dari yang namanya sakit hati dan dikecewakan.

Lesbianisme tergolong dalam abnormalitas seksual yang disebabkan adanya partner-seks yang abnormal. Lesbianisme berasal dari kata Lesbos. Lesbos sendiri adalah sebutan bagi sebuah pulau ditengah Lautan Egeis, yang pada zaman kuno dihuni oleh para wanita (dalam Kartono, 1985). Homoseksualitas di kalangan wanita disebut dengan cinta yang lesbis atau lesbianismen (psikoterapis.com)

 

Lesbian, penyakit masyarakat

Lesbian itu bukan dari faktor genetik ataupun penyakit turunan. Bukan pula muncul tiba-tiba dan seolah ada pembenaran bahwa pelakunya tak bisa memilih untuk suka sejenis atau lawan jenis. Tentu saja manusia punya hak untuk memilih. Hanya karena mereka ini tak ada alasan lain yang masuk akal, jadilah ‘takdir’ dituding atas kondisi abnormal dirinya sendiri. Ini namanya tak bertanggung jawab dan mencari simpati agar makin banyak orang yang memberikan dukungan terhadap ketidaknormalan perilaku lesbian.

Sobat gaulislam, munculnya fenonema lesbian ini tidak semata-mata ada begitu saja. Bila dirunut ke belakang, ada sebab musabab yang menjadi penyebab maraknya praktis lesbianisme terutama di kalangan remaja. Sikap hidup yang permisif alias serba boleh menjadi salah satu pemicu lesbian menjadi gaya hidup. Dari individunya sendiri, rendahnya keimanan menjadi faktor penting. Rasa tidak takut dosa dan menafikkan adanya kehidupan setelah kematian membuat seseorang melakukan aktivitas semau gue dalam hidupnya. Tak peduli halal dan haram. Bahaya bener!

Rendahnya kesadaran dan kontrol dari masyarakat juga turut andil. Melihat dan mengetahui ada aktivis lesbian di sekitar mereka, masyarakat cuek bebek. Selama tidak mengganggu kepentingan mereka, maka masyarakat ini juga tidak berusaha untuk menegur dan memberi sanksi sosial kepada para lesbian. Lebih parah lagi adalah lemahnya kontrol negara yang tak memberikan hukuman bagi pelaku lesbian. Memilih pasangan hidup meskipun sejenis dianggap sebagai hak asasi yang harus dilindungi. Dan inilah ketiga pilar masyarakat yang sama rusaknya akibat buah dari demokrasi yaitu dari rakyat untuk rakyat dan oleh rakyat. Selama rakyat suka (dengan voting suara terbanyak) dan tak melakukan komplain, maka sah-sah saja perilaku menyimpang ini menjadi tren di tengah masyarakat. Jelas, demokrasi memang membahayakan kehidupan umat manusia.

Kebebasan berperilaku, yupz…ini adalah salah satu pilar HAM yang diatur dalam negara demokrasi yang menjadi dasar dan pedoman bagi kaum lesbian untuk merajalela. Tak ada pasal yang bisa menjerat mereka. Sebaliknya, semakin banyak saja negara di dunia yang semula menolak dan anti lesbian, berubah menjadi pendukung dan memberi jaminan hukum bagi pelakunya. Belanda bahkan mengesahkan perkawinan sejenis ini. Beberapa gereja di Eropa dan Amerika Serikat juga telah memberikan dukungan dan pemberkatan bagi mereka yang ingin hidup bersama dalam ikatan perkawinan yang suci. Bahkan militer Amerika juga mulai memberikan kesempatan yang sama bagi para penyuka sejenis ini untuk turut andil dalam bela bangsa. Ckckck… rusak bener!

Sobat muda muslim pembaca setia gaulislam, konon kabarnya cinta para lesbian ini jauh lebih mendalam dan agresif daripada perilaku cinta normal antara perempuan dengan laki-laki. Tak jarang mereka melakukan kekerasan fisik bila merasa bahwa pasangan sejenisnya itu selingkuh. Rasa cemburunya cenderung membabi buta dan tak rasional. Ya, namanya saja aktivitas abnormal, perilaku pelakunya pun jauh dari batas kewajaran.

 

Bagaimana Islam memandang?

Jelas, Islam tampil beda. Meskipun seluruh dunia berubah mendukung dan memberikan pembelaan terhadap kaum lesbian, Islam dengan tegas menyatakan keharamannya disertai sanksi tegas. Tak akan berubah suatu hukum hanya karena perubahan zaman. Meskipun ada orang yang menamakan dirinya ulama (ngaku-ngaku), semisal Musdah Mulia yang membela hak kaum homoseks dan lesbian, tak lantas membuat hukum homo dan lesbian menjadi halal. Nggak lha ya!

Sejatinya, Islam itu memang menjaga kehidupan dan keberlangsungan jenis manusia di dunia ini. Tak bisa dibayangkan mau jadi apa bila perempuan menyukai perempuan dan laki-laki menyukai laki-laki. Sudah pasti akan punah bangsa manusia dalam jangka waktu yang tak terlalu lama. Oleh karena itu, harus ada aturan tegas bahwa laki-laki menikah dengan perempuan saja dan begitu sebaliknya, kecenderungan perempuan secara normal hanya pada laki-laki saja. Catet Bro en Sis.

Penyimpangan dari aturan tersebut dikenakan sanksi yang tegas agar sebuah hukum itu berwibawa dan dipatuhi. Dalam hal ini ta’zir atau hukuman yang ditetapkan oleh pihak berwenang atas nama negara harus dijatuhkan (hukuman mati jika tak mau tobat). Imam Syafi’i menetapkan pelaku dan orang-orang yang ‘dikumpuli’ (oleh homoseksual dan lesbian) wajib dihukum mati, sebagaimana keterangan dalam hadis, “Barangsiapa yang mendapatkan orang-orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth (praktik homoseksual dan lesbian), maka ia harus menghukum mati; baik yang melakukannya maupun yang dikumpulinya.” (HR Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Baihaqi)

Masalahnya, hampir semua negara yang ada di dunia saat ini membebek ke Barat sehingga perilaku lesbi dianggap bukan pelanggaran apalagi kemaksiatan. Oleh karena itu, kosongnya pemerintahan Islam yang berwibawa mengakibatkan praktik kemaksiatan termasuk lesbian marajalela.

Bro en Sis, muncullah sebuah pertanyaan baru. Apabila tidak ada negara Islam yang kuat dan berwibawa untuk menerapkan ta’zir bagi pelaku lesbi, lalu bagaimana dong? Nah, di sinilah pentingnya or urgennya perjuangan untuk mewujudkan sebuah negara dan pemerintahan yang berwibawa yang akan menjalankan syariat Islam secara kaaffah (menyeluruh). Bentuk negara itu sudah pasti bukan demokrasi (parlementer ataupun presidensial). Bentuk negara itu adalah Khilafah Islamiyah yang punya kedaulatan karena menerapkan aturan Islam serta menjaga kehormatan dan melindungi kehidupan warga negaranya termasuk dari praktek homoseks.

So, munculnya praktek lesbian ini ternyata adalah produk sebuah sistem rusak bernama demokrasi yang melindungi HAM dengan slogan kebebasannya dalam berperilaku. Karena sudah jelas kebobrokannya, so pasti tak perlu kita lanjutkan penerapannya. Sudah saatnya kita kembali kepada fitrah manusia yaitu Islam yang menempatkan segala sesuatunya dengan adil. Laki-laki berpasangan dengan perempuan dan perempuan pun mencintai laki-laki sebagimana normalnya sebuah kehidupan.

Ingat, hewan saja males banget berhubungan dengan sesame jenis. Masa’ iya manusia yang dikarunia akal malah perperilaku lebih rendah dari hewan? Jadi, tak perlu ikut-ikutan terhadap kaum abnormal ini meskipun mungkin perilaku ini menjadi tren di sekitar kamu. Keukeuh saja terhadap apa kata Islam bahwa perbuatan ini haram dan wajib dihindari. Sebaliknya, kamu harus berupaya untuk menyadarkan temanmu (bila ada) yang sedang terjerumus dalam lembah nista ini.

See, ternyata permasalahan remaja itu lumayan ribet juga ya sobat gaulislam? Nilai-nilai asing semisal lesbian yang tak sesuai dengan kepribadian kita sebagai muslim wajib kita buang jauh-jauh. Kita tanamkan saja pada diri bahwa kalo nurut sama aturan Islam, insya Allah akan membawa kita sukses dunia akhirat. Yakinlah!

Sumber: Gaul Islam


 
::. Allhamdulillah dan Selamat atas diterimanya Ananda di PTN Favorit : Fatimah Alifha (SMAN 6 Bogor, diterima di IPB - Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat) -- Milenia Tadhita SNR (SMAN 3 Bogor, diterima di Unpad – Psikologi) -- Muhammad Rahman Amrullah (SMAN 3 Bogor, diterima di ITB – FTTM) -- Raja Mula Teguh Wirandio (SMAN 3 Bogor, diterima di UI - Teknik Industri) -- Rifky Khoeruddin (SMAN 3 Bogor, diterima di IPB - Teknologi Pangan) -- Shabrina Shaliha (SMAN 3 Bogor, diterima di UI - Pendidikan Dokter) -- Silke Ramadhani Tresnatri (SMAN 3 Bogor, diterima di UI – FKG) -- Syifa Amalia (SMAN 3 Bogor, diterima di UI – Farmasi) -- Ivana Calista Brata (SMAN 1 Bogor, diterima di UI - Administrasi Niaga) -- Muhammad Reinaldi (SMAN 1 Bogor, diterima di Unpad- Televisi dan Film) -- Abiyu Muhammad Akmal (SMAN 1 Bogor, diterima di UI - Sistem Informasi) -- Annisa Ayu Saputri (SMAN 3 Bogor, diterima di UNPAD - Kedokteran Gigi) -- Farah Miranti Farizi (SMAN 1 Bogor, diterima di UNPAD - Pendidikan Dokter) -- Farih Afdhahul Ihsan (SMAN 5 Bogor, diterima di IPB – Manajemen) -- Karima Putri Mahdiyah (SMAN 1 Bogor, diterima di IPB – Agribisnis) -- Vanessa Zahra (SMA Dwi Warna Bogor, diterima di UNPAD – Kedokteran Gigi) -- Vicky Pratiwi (SMAN 3 Bogor, diterima di IPB – Teknologi Industri Pertanian) -- Alyssa Nadira Salsabila (SMAN 1 Bogor, diterima di IPB - Kedokteran Hewan) -- Yanathifal Salsabila (SMAN 9 Bogor, diterima di UI – Manajemen) -- Andini Putri Salma (SMAN 3 Bogor, diterima di UI – Vokasi Komunikasi) -- Annisa Aniza (SMAN 2 Bogor, diterima di IPB – Sekolah Bisnis) -- Ayu Batari (SMAN 5 Bogor, diterima di UNPAD – Ilmu Kesejahteraan Sosial) -- Chanisiyah Lintang (SMAN 2 Bogor, diterima di UI – Kimia) -- Hafizah Putri Ramadhani (SMAN 2 Bogor, diterima di UNPAD – Agribisnis) -- Khalisha Farhanan (SMAN 5 Bogor, diterima di UI – Ilmu Komunikasi) -- Lazuardi Ilyasa  Iskandar (MAN 2 Bogor, diterima di UNPAD – Ilmu Hukum) -- Milenia Ihsanti Suwarna (SMAN 2 Bogor, diterima di IPB – Agribisnis) -- Natsumi Jati Putri (SMAN 5 Bogor, diterima di UI – Manajemen) - Syelin Pratika Sanindita (SMAN 5 Bogor, diterima di UI – Sastra Korea) -- Aditya Taufiq R (SMAN 2 Bogor, diterima di IPB – Manajemen) -- Tissa Willavia (SMAN 1 Bogor, diterima di UNPAD – Pendidikan Dokter) -- Vida Zinia Putri H (SMAN 3 Bogor, diterima di UI – Teknik Kimia) -- Andina Eka Prihertanti (SMAN 1 Cibinong, diterima di UI - ) -- Risyad Pangestu (SMAN 1 Bogor, diterima di UNPAd – Teknik Informatika) -- Ika Keumala Fitri (SMAN 1 Bogor, diterima di ITB – MIPA) -- Milka Zahra Cholilla (SMAN 1 Cibinong, diterima di UI – Perpajakan) -- Muhammad Fauzan (SMAN 2 Cibinong, diterima di UI – Akuntansi) -- Abimanyu Prabaswara (SMA Labschool Rawamangun, diterima di UI – Manajemen KI) -– Ariani Bakhitah (SMAN 54 Jakarta, diterima di UI – Kimia) -- Ariq Dmitri Andrei (SMA Labschool Rawamangun, diterima di UGM – Hubungan Internasional) -– Muhammad Berdauno (SMA Labschool Rawamangun, diterima di UGM – Bisnis) – Nadira Syafira (SMA Diponegoro 1, diterima di UI – Perumahsakitan Vokasi) -- Nurul Syafithri (SMAI  Al Azhar 1 , diterima di ITB – FMIPA) -- Adinda Hasna Rahmadia (SMA Labschool Rawamangun, diterima di UI – Bahasa dan Kebudayaan Korea) - Maharani Apta C. (SMAN 11 Jakarta, diterima di UI – Sastra Cina) – Altezza (Sevilla Gloal School, diterima di ITB – FMIPA) -- Farros Ahmadi Praja (Khalifa International Islamic School, diterima di ITP – FTTM) -- Muhammad Rustam (-, diterima di UI – Manajemen) -- Fitria Ghaisani (SMAI Al Azhar 4, diterima di ITB – SBM) -- Ghina Rabbani Wasito (SMAI Al Azhar 4, diterima di UNPAD – Ilmu Politik) - Nathalia Syafira (SMAI Al Azhar 4, diterima di UNPAd – Film dan Televisi) -- R. Arif Adi Nugroho (SMAI Al Azhar 4, diterima di ITb – SBM) -- Sallimatu Diniyah (SMAI Al Azhar 4, diterima di UNPAD – Ilmu Perpustakaan) – Satrio (SMAI Al Azhar 4, diterima di UNPAD – Ilmu Ekonomi Islam) -- Wydiana Tri Destiawati (SMAI Al Azhar 4, diterima di UNPAD Ilmu Pemerintahan) -- Amal Adiguna (SMAN 82 Jakarta, diterima di UI – Ilmu Komputer) -- Arnindito Rizhandi (SMAN 70 Jakarta, diterima di UI – Teknik Kimia) -- Dzaki Ridho (SMAI Al Azhar 3, diterima di UI – Teknik Perkapalan) -- Farras Yoga Purnama (SMAN 99 Jakarta, diterima di UI – Teknik Kimia) -- Ivan Prakasa Dharmawan (Global Mandiri, diterima di ITB – FTSL) -- Monic Provi Dewinta (SMAN 48 Jakarta, diterima di UI – Ilmu Administrasi Fiskal) -- Salsa Fadhillah (SMAN 78 Jakarta, diterima di UI – Teknik Elektro) -- Farah Fabriana (SMAN 34 Jakarta, diterima di UI – Arsitektur) - Raniah Amirah S (SMAN 34 Jakarta, diterima di UI – Sastra Jerman) -- Anisa Farisdayanty (SMAN 5 Bekasi, diterima di UI – Akuntansi D3) - Eka Yusmeiliana K (SMA PB Soedirman, diterima di UI – Perumahsakitan) -- Muhammad Alif Firdi D (SMA Darussalam Cikunir, diterima di IPB – Ilmu Teknik Perkapalan) -- Tiara Ariake Shalsabila (SMA PB Soedirman, diterima di ITB – SITH) -- M. Syauqi (-, diterima di IPB – Argobisnis) – Tsabita (-, diterima di IPB – SITH) -- Larasati Dwi Rizqiqa (SMA President School Jababeka, diterima di UNPAD – Ilmu Hukum) -- Ferzadela Haniza Y (SMAN 1 Bekasi, diterima di UI – Administrasi Asuransi dan Aktuaria) -- Mochamad Racka Nugroho (SMAN 1 Bekasi, diterima di UI – Teknik Industri Internasional) -- ARHAM RIZKY ATHALLAH (-, diterima di ITB – FTMD) -- Farhan Aditya Wibowo (SMAN 68, diterima di UI – Teknis Mesin) -- Syifa Amirta Sani (SMAN 3 Bogor, diterima di UI – farmasi) -- Naufal Ihsan Kamal (SMAN 34 Jakarta, diterima di UI – Teknik Mesin) -- Sarah Aminah Kherid (SMAN 2 Tangsel, diterima di UI – Farmasi) -- Ashkia Nur Yasyifa (-, diterima di UI) -- Putri Shabrina (MAN 13 Jakarta, diterima di IPB Kimia) -- Jasmine Humaira (SMAN 3 Depok, diterima di UI – Teknik Kimia) -- Naura Nafisha (SMAN 2 Depok, diterima di UI – Ekonomi) -- Amara Thifaal Nadhira (SMAN 2 Depok, diterima di UNPAD – Ilmu Hukum) .::