LOGO BINTANG PELAJAR

Announcement Scroller

Stay updated with all our latest news enter your e-mail address here

Delivered by FeedBurner

Mahasiswa ‘Dunia-Akhirat’
Mahasiswa ‘Dunia-Akhirat’

gaulislam edisi 305/tahun ke-6 (19 Syawal 1434 H/ 26 Agustus 2013)

Waduuuh… kayaknya kamu yang doyan metal pagi ini masih ada yang ngantuk gara-gara nonton konser Metallica semalam ya. Ckckckck.. ngenes juga sih kalo sampe lupa semuanya, termasuk nggak shalat gara-gara bela-belain nonton konser Metallica. Miris juga kalo ngeliat betapa antusiasnya remaja (dan juga remaja generasi 90-an alias yang udah pada tua untuk ukuran jaman sekarang) tumplek-blek di Gelora Bung Karno untuk jejingkrakan bersama band metal asa Los Angeles itu (kalo ke tempat pengajian gitu nggak ya?). Nah, meski demikian, tentunya ada juga remaja dan mahasiswa yang nggak ikut-ikutan menjerumuskan dirinya di arena tersebut. Selamat buat kamu yang masih istiqomah di jalan Islam.

Bro en Sis penggila gaulislam, meski udah lewat penerimaan mahasiswa baru secara nasional, lewat SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) yang  seleksi mandiri di perguruan tinggi swasta, namun gaulislam mau bahas ah. Bukan soal gimana ujiannya tentu, tetapi gimana kiprah masa depan kamu sebagai mahasiswa muslim.

Kalo sekarang udah jadi mahasiswa, tentu bukan saatnya main-main lagi (sebenarnya dari SD sampe sekarang juga udah nggak main-main soal pendidikan dan masa depan). Bro en Sis, masa kuliah adalah masa penentuan spesifikasi masa depan kamu. Ya, meskipun nggak sedikit juga orang yang salah ngambil jurusan. Atau pekerjaan yang didapat setelah lulus kuliah, nggak sesuai dengan jurusannya. Tetapi yang pasti, kehidupan harus terus berjalan dan banyak hal yang tetap bisa kamu lakukan untuk masa depan keluarga, karir dan tentunya dakwah serta perjuangan Islam juga dong. Jadilah mahasiswa “dunia-akhirat” yang emang harus berprestasi dengan benar dan baik demi kehidupan di dunia dan juga mencari bekal untuk kehidupan akhirat kelak.

Pilih sesuai minatmu

Emang sih, kalo sekarang udah telat nulisnya. Hehehe.. soalnya pasti kamu udah nentuin pilihannya dan udah keterima di fakultas idaman kamu semua. Tetapi bagi yang kebetulan saat ini memilih mau kerja dulu atau masih mikir-mikir antara kerja dan kuliah, ya jadikan celotehan saya di tulisan ini sebagai panduan. Bisa juga buat kamu yang ingin masuk ke perguruan tinggi swasta masih ada waktu buat milih bidang keahlian sesuai minatmu.

Ini harus direncanakan lho. Biasanya, sebelum UN siswa galau tingkat galaxy dengan UN nya. Tapi, setelah UN berakhir, justru beban itu malah nambah berat. Sebab, doi pasti kebingungan bakal nerusin kuliah di mana, jurusan apa, tesnya susah, apalah segala macem. Ampe, numbuh jerawat tuh mikirin gituan doing. *lebay

Sebenernya sih, masalah-masalah yang bikin galau calon mahasiswa baru itu, bukan hal yang harus jadi beban. Sebab, kita juga jangan menyingkirkan peran Allah Swt. Sebagai penentu kehidupan kita di masa depan, Allah maha tahu. Jadi, kita juga mesti minta petunjuk yang terbaik padaNya.

Terus, sebelum memilih dari pilihan-pilihan yang banyak di hadapan kita itu, kita juga harus nentuin dulu, “mau jadi apa kita di masa depan?”. Nah, caranya adalah dengan mengenali potensi yang ada dalam diri kita, belajar sedikit demi sedikit bidang yang kita ingin capai. Ya, minimal kenalan dulu lah sama bidang yang mau kita geluti. Kemudian, kita  harus pantaskan diri kita juga dengan cita-cita yang kita ingin capai. Kalo kamu pengen jadi tenaga kerja siap pakai berarti milih ambil teknik misalnya komputer, desain grafis dan sejenisnya. Boleh juga ambil kursus dah.

Oya, yang paling penting, yang harus diingat nih, kuliah itu bukan ajang buat ngejar IPK gede buat nyari kerja. Beberapa perusahaan mungkin masih peduli dengan nilai di IPK, tetapi banyak juga perusahaan yang udah mulai ninggalin soal itu. Mereka lebih memilih calon karyawan yang skill-nya nggak jeblok-jeblok amat, tetapi memiliki attitude alias sikap yang bagus. Dunia kerja bukan cuma butuh hard skill, tapi juga butuh soft skill. Kalo kuliah cuman buat ajang gaya-gayaan?. Siap-siap bangkrut di masa depan. Kuliah capek-capek tapi nggak dapat kehalian yang diinginkan karena kebanyakan main-main. Akur? Tos dah!

Jadi mahasiswa berprestasi

Jadi mahasiswa berprestasi itu bukan cuma karena IPK dengan predikat cumlaude atau di atasnya ya Bro en Sis. Sebab, kalo isi otak kita apa yang ada di buku semua, itu belum cukup buat kamu jadi mahasiswa berprestasi yang sesungguhnya.

Sobat gaulislam, misalnya aja kamu bisa nentuin bahwa mahasiswa berprestasi itu, harus jadi idaman dosen, idaman kelas, keluarga, dan yang paling utama diridhoi Allah Swt. Sebab, kepribadian seseorang itu nggak dapet ditentuin dari text book. Tapi, sebagai muslim, kepribadian kita harus terbentuk dari keseimbangan antara pola pikir dan pola sikap yang islami.

Aplikasi dari kriteria mahasiswa berprestasi, kita harus ngerti dunia kampus yang nggak cuma jadi tipe mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang, kuliah pulang). Tetapi cobalah kamu gaul ama mahasiswa lainnya dan gabung dengan berbagai komunitas di dalamnya. Tentu saja komunitas atau organisasi yang bermanfaat. Sebab, nggak bakal dapet bagaimana caranya membuat proposal dengan baik dan benar, nyari donatur acara, gimana caranya melobi sponsor—yang semua itu dibutuhkan di dunia kerja dan di masyarakat nantinya, tanpa kita ikut kegiatan organisasi kampus. Sebab, perusahaan atau masyarakat juga bagian dari organisasi. Sehingga, di kampus adalah kesempatan buat kamu bisa belajar berorganisasi, nggak cuma kuliah doang.

Bro en Sis, kita juga nggak bakal dapet ilmu agama yang mempuni, dari mata kuliah yang cuma 2 SKS selama masa perkuliahan berlangsung. Padahal, ilmu agama bisa mendorong kecerdasan kita lho. Islam juga bisa dorong kita buat terus belajar, berpikir cemerlang, dan berkhlak mulia. So, kita jangan mau diperbudak sama ilmu yang hanya berorintasi kerja aja atau urusan dunia lainnya.

Nah, yang oke itu, tawazun atau seimbang antara bekal dunia dan akhirat. Islam nggak melarang kita buat nyari kehidupan dunia, tetapi dunia bukan tujuan utama, hanya sebatas pelengkap agar kita bisa menikmati kehidupan ini dan mendukung amal shalih yang kita lakukan. Di kampus, kita bisa bertawazun dengan cara aktif mengikuti kegiatan kampus. Apalagi, mahasiswa itu biasanya kreatif-kreatif lho, di kampus saya juga nggak kehitung deh berapa banyak organisasi yang ada, dari mulai resmi sampe underground ada.

Nah, bagi kita-kita nih remaja muslim, kita mestinya ikutin kegiatan kampus yang membahas keislaman, supaya kita bisa dapet ilmu-ilmu Islam, sebagai penyeimbang dan untuk mencapai ridho Allah.

Kuliah yes, dakwah yes!

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, kuliah itu amanah dari orang tua kita, yang ingin melihat anak-anaknya bahagia di masa depan. Itu sebabnya, kita juga jangan menyepelekan, apalagi mengabaikan kewajiban kamu dalam belajar. Sebab, itu bisa membahatakan masa jabatanmu sebagai mahasiswa. Namun demikian, dengan aktif di kelas, jangan jadi alasan kita lupa amanah dari Allah untuk menyebarluaskan Islam dengan dakwah.

Dakwah jangan dianggap sebagai beban, justru dakwah adalah sebuah keistimewaan yang diberikan Allah pada kita. Allah Swt. berfirman: “Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi manusia, kalian menyuruh (berbuat) kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran dan kalian beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran [3] : 110)

Jangan pernah, kita berfikir. Saat jadi aktivis dakwah kuliah jadi terbengkalai. Itu salah besar, sebab Islam tidak mengajarkan hal itu. Islam mengajarkan kita untuk terus merenungi ayat-ayat Allah agar kita berfikir. Ilmuwan-ilmuwan muslim pada masa kejayaan Islam, selain mereka seorang ilmuwan yang berkrya di bidang iptek, banyak di antara mereka juga merupakan para mujtahid. So, nggak jadi alasan buat kita jadi unggul dalam beberapa bidang tetapi matang dalam ilmu keislaman. Keren!

Merancang target sejak dini

Buat eksis dalam keilmuan, solusinya ada pada kedisiplinan kita mengatur waktu agar kegiatan kita jadi lebih efektif dan efisien. Sebagai mahasiswa yang juga aktivis dakwah, kita kudu bisa ngatur jadwal kita di kelas, dakwah, dan posisi kita sebagai anak di keluarga.So, perlu ada target yang kudu dicapai dengan merealisasikan hal-hal berikut.

Pertama, jadi yang unggul di kelas. Meski kesibukan mendera, jangan sampai kelas kita jadi korban. Kalo kebetulan nggak bisa masuk kelas kamu kudu siap dengan konsekuensinya, tetapi bukan karena malas, tetapi karena ada alasan yang syar’i (sakit, urusan keluarga) dengan surat izin. Terus, kalau memang dosen nya “lumayan” usahakan tetep masuk. Hehehe.. lumayan apa ya? Kamu tahu deh maksud saya.

Deketin temen yang sering masuk, biar bisa nanya-nanya masalah tugas, dan berusahalah buat beresin tugas-tugas yang diberikan dosen tepat waktu. Saat kita masuk kelas duduklah di barisan paling depan, biar dosen hapal wajah dan nama kita. Bener lho. Silakan dicoba. Namun alasan duduk di awal sebenarnya buakn soal itu, tetapi menunjukkan kamu siap mendapatkan ilmu dengan serius karena bisa lebih dekat menyimak penjelesan dosen.

Kedua, jadi anak yang berbakti. Sibuk kuliah bukan berarti melupakan orang tua, dan kewajiban mentaati mereka. Karena, gimanapun ridho Allah tergantung pada ridhonya mereka. Berikan kepada mereka pemahaman, bahwa kita adalah agent of change kearah yang lebih baik. Kita ingin jadi orang bermanfaat untuk umat ini. Dan kita harus buktiin ke ortu kita, kalo kesibukan dakwah nggak pengaruhi IP kita. Itulah pentingnya tanggung jawab.

Ketiga, buatlah cara mengatur waktu kita, biar nggak berantakan. Kita harus buat job descdalam hidup kita. Bikin deh time line di setiap rutinitas kita. Itu buat nunjukkin keseriusan kita menuai keberhasilan masa depan kita. Terus, jangan lupain visi jangka pendek yang kita ingin capai ya. Biar masa depan kita jelas. Ayo mulai sekarang bikin ya!

Keempat, jadi pejuang Islam sejati. Tunjukin identitas kita sebagai pemuda  pejuang Islam sejati. Muslim yang selalu berpegang teguh pada al-Quran dan as-Sunnah. Memperjuangkan Islam, giat menghadiri majlis-majlis ilmu. Mahasiswa yang menjadikan surga sebagai visi yang harus dicapainya dengan mencari ridho Allah.

Sobat gaulislam, Islam memiliki banyak pejuang, dan akan selalu ada. Semoga kamu satu di antaranya. Namun, tak semua dapat bertahan mempemperjuangkan Islam. Hanya orang-orang pilihanlah yang akan bertahan. Sebab hidup adalah pilihan. Pilihan untuk menjadi lebih baik dengan Islam atau terhina karena meninggalkan Islam.

Oke, semangat saudaraku. Kalian adalah generasi pejuang Islam selanjutnya. Jadikan peran kamu sebagai mahasiswa untuk menunjukkan betapa dakwah tetap menjadi prioritas kewajibanmu. Jadilah mahasiswa ‘dunia-akhirat’—memikirkan kehidupan dunia sekaligus masa depan di akhirat. Semangat!


 
::. Allhamdulillah dan Selamat atas diterimanya Ananda di PTN Favorit : Fatimah Alifha (SMAN 6 Bogor, diterima di IPB - Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat) -- Milenia Tadhita SNR (SMAN 3 Bogor, diterima di Unpad – Psikologi) -- Muhammad Rahman Amrullah (SMAN 3 Bogor, diterima di ITB – FTTM) -- Raja Mula Teguh Wirandio (SMAN 3 Bogor, diterima di UI - Teknik Industri) -- Rifky Khoeruddin (SMAN 3 Bogor, diterima di IPB - Teknologi Pangan) -- Shabrina Shaliha (SMAN 3 Bogor, diterima di UI - Pendidikan Dokter) -- Silke Ramadhani Tresnatri (SMAN 3 Bogor, diterima di UI – FKG) -- Syifa Amalia (SMAN 3 Bogor, diterima di UI – Farmasi) -- Ivana Calista Brata (SMAN 1 Bogor, diterima di UI - Administrasi Niaga) -- Muhammad Reinaldi (SMAN 1 Bogor, diterima di Unpad- Televisi dan Film) -- Abiyu Muhammad Akmal (SMAN 1 Bogor, diterima di UI - Sistem Informasi) -- Annisa Ayu Saputri (SMAN 3 Bogor, diterima di UNPAD - Kedokteran Gigi) -- Farah Miranti Farizi (SMAN 1 Bogor, diterima di UNPAD - Pendidikan Dokter) -- Farih Afdhahul Ihsan (SMAN 5 Bogor, diterima di IPB – Manajemen) -- Karima Putri Mahdiyah (SMAN 1 Bogor, diterima di IPB – Agribisnis) -- Vanessa Zahra (SMA Dwi Warna Bogor, diterima di UNPAD – Kedokteran Gigi) -- Vicky Pratiwi (SMAN 3 Bogor, diterima di IPB – Teknologi Industri Pertanian) -- Alyssa Nadira Salsabila (SMAN 1 Bogor, diterima di IPB - Kedokteran Hewan) -- Yanathifal Salsabila (SMAN 9 Bogor, diterima di UI – Manajemen) -- Andini Putri Salma (SMAN 3 Bogor, diterima di UI – Vokasi Komunikasi) -- Annisa Aniza (SMAN 2 Bogor, diterima di IPB – Sekolah Bisnis) -- Ayu Batari (SMAN 5 Bogor, diterima di UNPAD – Ilmu Kesejahteraan Sosial) -- Chanisiyah Lintang (SMAN 2 Bogor, diterima di UI – Kimia) -- Hafizah Putri Ramadhani (SMAN 2 Bogor, diterima di UNPAD – Agribisnis) -- Khalisha Farhanan (SMAN 5 Bogor, diterima di UI – Ilmu Komunikasi) -- Lazuardi Ilyasa  Iskandar (MAN 2 Bogor, diterima di UNPAD – Ilmu Hukum) -- Milenia Ihsanti Suwarna (SMAN 2 Bogor, diterima di IPB – Agribisnis) -- Natsumi Jati Putri (SMAN 5 Bogor, diterima di UI – Manajemen) - Syelin Pratika Sanindita (SMAN 5 Bogor, diterima di UI – Sastra Korea) -- Aditya Taufiq R (SMAN 2 Bogor, diterima di IPB – Manajemen) -- Tissa Willavia (SMAN 1 Bogor, diterima di UNPAD – Pendidikan Dokter) -- Vida Zinia Putri H (SMAN 3 Bogor, diterima di UI – Teknik Kimia) -- Andina Eka Prihertanti (SMAN 1 Cibinong, diterima di UI - ) -- Risyad Pangestu (SMAN 1 Bogor, diterima di UNPAd – Teknik Informatika) -- Ika Keumala Fitri (SMAN 1 Bogor, diterima di ITB – MIPA) -- Milka Zahra Cholilla (SMAN 1 Cibinong, diterima di UI – Perpajakan) -- Muhammad Fauzan (SMAN 2 Cibinong, diterima di UI – Akuntansi) -- Abimanyu Prabaswara (SMA Labschool Rawamangun, diterima di UI – Manajemen KI) -– Ariani Bakhitah (SMAN 54 Jakarta, diterima di UI – Kimia) -- Ariq Dmitri Andrei (SMA Labschool Rawamangun, diterima di UGM – Hubungan Internasional) -– Muhammad Berdauno (SMA Labschool Rawamangun, diterima di UGM – Bisnis) – Nadira Syafira (SMA Diponegoro 1, diterima di UI – Perumahsakitan Vokasi) -- Nurul Syafithri (SMAI  Al Azhar 1 , diterima di ITB – FMIPA) -- Adinda Hasna Rahmadia (SMA Labschool Rawamangun, diterima di UI – Bahasa dan Kebudayaan Korea) - Maharani Apta C. (SMAN 11 Jakarta, diterima di UI – Sastra Cina) – Altezza (Sevilla Gloal School, diterima di ITB – FMIPA) -- Farros Ahmadi Praja (Khalifa International Islamic School, diterima di ITP – FTTM) -- Muhammad Rustam (-, diterima di UI – Manajemen) -- Fitria Ghaisani (SMAI Al Azhar 4, diterima di ITB – SBM) -- Ghina Rabbani Wasito (SMAI Al Azhar 4, diterima di UNPAD – Ilmu Politik) - Nathalia Syafira (SMAI Al Azhar 4, diterima di UNPAd – Film dan Televisi) -- R. Arif Adi Nugroho (SMAI Al Azhar 4, diterima di ITb – SBM) -- Sallimatu Diniyah (SMAI Al Azhar 4, diterima di UNPAD – Ilmu Perpustakaan) – Satrio (SMAI Al Azhar 4, diterima di UNPAD – Ilmu Ekonomi Islam) -- Wydiana Tri Destiawati (SMAI Al Azhar 4, diterima di UNPAD Ilmu Pemerintahan) -- Amal Adiguna (SMAN 82 Jakarta, diterima di UI – Ilmu Komputer) -- Arnindito Rizhandi (SMAN 70 Jakarta, diterima di UI – Teknik Kimia) -- Dzaki Ridho (SMAI Al Azhar 3, diterima di UI – Teknik Perkapalan) -- Farras Yoga Purnama (SMAN 99 Jakarta, diterima di UI – Teknik Kimia) -- Ivan Prakasa Dharmawan (Global Mandiri, diterima di ITB – FTSL) -- Monic Provi Dewinta (SMAN 48 Jakarta, diterima di UI – Ilmu Administrasi Fiskal) -- Salsa Fadhillah (SMAN 78 Jakarta, diterima di UI – Teknik Elektro) -- Farah Fabriana (SMAN 34 Jakarta, diterima di UI – Arsitektur) - Raniah Amirah S (SMAN 34 Jakarta, diterima di UI – Sastra Jerman) -- Anisa Farisdayanty (SMAN 5 Bekasi, diterima di UI – Akuntansi D3) - Eka Yusmeiliana K (SMA PB Soedirman, diterima di UI – Perumahsakitan) -- Muhammad Alif Firdi D (SMA Darussalam Cikunir, diterima di IPB – Ilmu Teknik Perkapalan) -- Tiara Ariake Shalsabila (SMA PB Soedirman, diterima di ITB – SITH) -- M. Syauqi (-, diterima di IPB – Argobisnis) – Tsabita (-, diterima di IPB – SITH) -- Larasati Dwi Rizqiqa (SMA President School Jababeka, diterima di UNPAD – Ilmu Hukum) -- Ferzadela Haniza Y (SMAN 1 Bekasi, diterima di UI – Administrasi Asuransi dan Aktuaria) -- Mochamad Racka Nugroho (SMAN 1 Bekasi, diterima di UI – Teknik Industri Internasional) -- ARHAM RIZKY ATHALLAH (-, diterima di ITB – FTMD) -- Farhan Aditya Wibowo (SMAN 68, diterima di UI – Teknis Mesin) -- Syifa Amirta Sani (SMAN 3 Bogor, diterima di UI – farmasi) -- Naufal Ihsan Kamal (SMAN 34 Jakarta, diterima di UI – Teknik Mesin) -- Sarah Aminah Kherid (SMAN 2 Tangsel, diterima di UI – Farmasi) -- Ashkia Nur Yasyifa (-, diterima di UI) -- Putri Shabrina (MAN 13 Jakarta, diterima di IPB Kimia) -- Jasmine Humaira (SMAN 3 Depok, diterima di UI – Teknik Kimia) -- Naura Nafisha (SMAN 2 Depok, diterima di UI – Ekonomi) -- Amara Thifaal Nadhira (SMAN 2 Depok, diterima di UNPAD – Ilmu Hukum) .::