LOGO BINTANG PELAJAR

Announcement Scroller

Stay updated with all our latest news enter your e-mail address here

Delivered by FeedBurner

Miss World, Bikin Hidup Makin Ruwet
Miss World, Bikin Hidup Makin Ruwet

gaulislam edisi 308/tahun ke-6 (10 Dzulqa’dah 1434 H/ 16 September 2013)

Ajang Miss World, meski banyak yang menolak, pro dan kontra, akhirnya tetap digelar, lho. Kontes Miss World ke 63 ini, tetap di laksanakan di Indonesia –negara yang konon memegang adat ketimuran. Namun, semua acaranya dipusatkan di Nusa Dua, Bali. Acara puncak tak jadi di Sentul, Jawa Barat.

Nah, yang menghebohkan adalah, konon setidaknya akan ada 140 negara yang dipastikan akan menyiarkan acara tersebut secara live. Di Indonesia, stasiun TV yang siap meraup keuntungan besar adalah RCTI (milik kelompok usaha MNC) karena udah sukses mendapatkan hak siar penuh dari Miss World Organization. Meski demikian, anehnya di negeri asal Miss World itu sendiri, acara ini udah nggak disiarkan lagi di saluran TV terestrial  Inggris, lho.

Dengan alasan bahwa tahun ini penyelenggaraan Miss World akan lebih sopan, seperti nggak ada bikini dalam kontes, beberapa penguasa dan daerah merestui ajang maksiat ini. Padahal, jelas-jelas banyak ulama dan ormas Islam yang mengecam keras acara tersebut.

Bro en Sis Rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, kayaknya pemerintah kok nggak peduli ya dengan suara umat Islam? Kok kayaknya menutup mata meski suara itu berasal dari jeritan rakyatnya? Jadi nyesek ya? Ah! Tapi bagi para pendakwah, jangan berkecil hati ya! Jangan pernah ada kata, berhenti berjuang. Allahu Akbar!

 

Kenapa mesti ditolak?

Sobat gaulislam, mungkin di antara kalian ada yang menanyakan, kenapa ajang Miss World ini mesti ditolak? Bukankah ini merupakan sarana promosi bagi pariwisata Indonesia ke seluruh dunia? Bukankah ini bisa menjadi inspirasi bagi wanita? Jawabannya gampang banget. Pertama, Miss World ini jelas-jelas ajang pornoaksi dan pornografi yang melanggar syariah. Dalam Islam, perempuan dilarang mengumbar bagian tubuhnya alias auratnya di hadapan khalayak umum yang bukan mahramnya. Jangankan mempertontonkan tubuh dengan pakaian yang kekurangan bahan seperti itu, memamerkan wajah yang bukan aurat saja sudah termasuk pelanggaran dalam Islam, lho.

Nah, pada kontes Miss World yang sekarang ini, peserta memang akan menghilangkan aksi bikininya. Tapi tetep aja kan pesertanya akan melenggak-lenggok di depan penonton dan juri dengan pakaian super ketat bin umbar aurat? Tetap aja kan kecantikan dan kemolekan tubuh wanita menjadi kriteria utama penilaian? Tetap aja kan wanita menjadi obyek hiburan yang memuaskan mata pria yang menyaksikan penampilannya? Kemudian tubuh yang dipertontonkan dengan bangga itu akan memancing decak kagum (baca: nafsu) mereka. Huekk!! Apakah ini yang disebut pemberdayaan perempuan? Yang ada malah perempuan-perempuan yang diperdaya.

Kedua, Miss World merendahkan martabat dan menghina wanita alias kaum cewek. Gimana nggak, gelar ratu sejagat yang katanya mewakili kaum wanita, diwakili oleh seorang perempuan yang terpilih karena kecantikan dan kemolekannya semata, karena itu yang memang menjadi kriteria utama penilaian. Badan yang tinggi semampai jadi pertimbangan. Ukuran payudara, pinggang dan pinggul yang ideal jadi persyaratan. Berat badan, warna kulit dan tekstur rambut jadi ukuran. Pokoknya semua harus sesuai standar Miss World yang nantinya laku dipasarkan di dunia hiburan.

Kalaupun ada penilaian 3B (Brain, Beauty, Behavior), itu hanya bedak. Coba bayangkan, mana bisa menilai Brain alias kecerdasan hanya dari kemampuan kontestan menjawab masalah kekinian. Terus untuk Behavior. Mana mungkin menilai kepribadian seseorang hanya dari keterlibatannya dalam aktivitas sosial kemasyarakatan. Nah, kalau Beauty-nya baru bener, emang Miss World ajang pamer kecantikan, kan?

Bro en Sis, pembaca gaulislam, dalam Miss World, wanita cantik adalah yang mampu berdandan dan bersolek sesuai tempatnya. Di kantor, pakai blazer. Di pantai, pakai bikini. Terus jika di pesta, pakai gaun yang bisa bikin masuk angin alias seksi. Jadi intinya, wanita cantik menurut versi Miss World adalah wanita yang sudi berpakaian ala kadarnya.

Ketiga, Kontes Miss World merupakan sarana untuk memasukkan budaya Barat. Kok bisa? Sebab, sudah jadi kebiasaan nih, kontestan yang menang akan jadi duta kebudayaan. Sang ratu sejagat ini bertugas mengangkat budaya asing yang di dalamnya mengandung cara pandang kehidupan. Maka ketika ia berkeliling dunia dan memperkenalkan budayanya, terjadilah homogenisasi budaya alias tuker-tukeran budaya. Emang sebagai kaum muslimin, kalian mau punya cara hidup ala Barat yang jelas-jelas bertentangan dengan akidah kita? Nggak lah!

Cara hidup yang ditawarkan Barat antara lain menjadikan pandangan bahwa wanita yang ideal adalah wanita yang menjadikan penampilan sebagai modal nomor satu dalam meraih kesuksesan. Urusan kecerdasan, kesholehan, ketrampilan dan kontribusinya di masyarakat sebagai urusan belakang (nggak dinilai).

Maka wanita yang paling mulia menurut cara pandang budaya Barat (kapitalisme) adalah, wanita yang paling banyak menghasilkan materi dan memiliki kemanfaatan materi. Wanita yang dari rambut sampai jempol kakinya bisa diiklankan. Pfiuuuhhh!!

 

Miss World, ajang promosi pariwisata?

Bro en Sis rahimakumullah, banyak lho pendukung Miss World yang berdalih bahwa ajang ini merupakan ajang promosi pariwisata yang akan berdampak baik bagi perekonomian bangsa. Oh, ya? Bener sih nama Indonesia akan di sebut-sebut dalam pemberitaan dunia, terus tanggal 28 September nanti bakal banyak mata yang tertuju ke Indonesia. Tapi, apa ada jaminan bahwa setelah ini serta-merta masyarakat dunia berbondong-bondong bak bedol desa datang melancong ke Indonesia terus abis-abisan berbelanja ke Indonesia. Please deh, kayaknya mengada-ada banget!

Oya, di sesi beach fashion penggunaan bikini akan dihapuskan diganti dengan sarung Bali. Bahkan ada usulan bahwa kontestan akan mengenakan kebaya dan batik Indonesia. Pertanyaannya Bro en Sis, apa sih yang diharapkan dari pemakaian embel-embel Indonesia tadi? Apa kita berharap setelah kontes masyarakat akan berbondong-bondong beli sarung Bali, kebaya dan batik? Percayalah, semua itu hanyalah ukuran duniawi. Semu dan menipu. Waspadalah!

 

Miss World, bikin ruwet

Bro en Sis rahimakumullah, itu sebabnya, nggak berlebihan dong kalau saya bilang Miss World itu bikin hidup makin ruwet. Gimana nggak, kontes kecantikan yang glamour ini telah membuat wanita lebih memuja raga dibanding nilai agama. Nggak sedikit lho, muslimah yang latah ikut-ikutan mendukung bahkan menjadikan para kontestan sebagai inspirasi mereka. Nggak sekadar niru penampilan mereka, tapi juga menjadikan tubuh mereka sarana menghasilkan uang.

Jadilah mereka wanita-wanita yang rela mempertontonkan tubuh mereka, bersolek dan berdandan habis-habisan, menjual kehormatan dan harga diri mereka, demi standar kecantikan ala Miss World ini. Bedah kosmetik dilakukan, demi sebuah harga bernama kecantikan. Diet yang berbahaya rela dijabanin meski harus kelaparan. Suntik vitamin E, sedot lemak de el el dijalanin, meski mengundang kematian. Maka terjebaklah mereka dalam gaya hidup materialis yang serba hedonis. Malangnya, kontes kecantikan semacam ini, justru didukung negara. Miris banget, Bro en Sis.

Itu sebabnya nih, kepada para guru dan orang tua, yuk kita tingkatkan kepedulian pada masa depan anak dan remaja muslimah! Jangan sampai mereka menjadikan sosok Miss World sebagai inspirasi mereka, apalagi terobsesi menjadi peserta ajang Miss World dan kontes kecantikan lainnya. Cukup sudah pemberitaan di media massa yang selama ini banyak menyiarkan adanya remaja yang tertangkap dalam jaringan prostitusi dan mucikari demi mendapatkan barang mewah yang biasa diiklankan. Cukup sudah fakta yang menunjukkan anak-anak usia SMP dan SMA melacurkan diri demi bisa secantik Barbie.

 

Islam menjaga wanita

Sobat gaulislam, Islam tidak akan pernah mengijinkan wanita untuk menggunakan kecantikan dan kemolekannya demi mendapatkan keuntungan materi. Kontes semacam Miss World tidak akan ada dalam kamus Islam. Pasalnya, tubuh wanita tidak untuk diperdagangkan, melainkan harus ditutup dengan busana muslimah seperti dalam firman Allah Ta’ala dalam, “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…” (QS an-Nuur [24] 31)

Kalau ada yang bilang pakaian muslimah menghambat gerak muslimah, wah itu salah banget. Busana inilah yang akan memuliakan wanita dan menjaganya dari korban pelecehan seksual. Daripada yang ngumbar aurat, hayo! Apa nggak ngundang pemerkosaan tuh?

Islam juga melarang wanita untuk pamer kecantikan di depan laki-laki asing. Allah Swt. berfirnan, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu…” (QS al-Ahzab [33]: 33)

Jadi, dalam Islam itu, wanita diukur kemuliaannya yaitu dari sisi ketakwaannya. Kalau wanita diukur dari kecantikannya, jangan-jangan entar ada yang bilang Allah Swt. itu tidak adil karena memberikan kecantikan hanya pada sebagian orang. Padahal Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak memandang rupa/fisik dan harta kalian, tetapi Allah memandang hati dan amal kalian” (HR Muslim)

Selain itu, Islam juga memuliakan wanita dengan menjamin hak-haknya sebagai manusia. Hak-hak itu meliputi jaminan terhadap kehormatan, jaminan kesejahteraan, jaminan untuk memperoleh pendidikan, jaminan untuk berpolitik, jaminan untuk kelangsungan keturunan, dan jaminan ketika wanita berada di ruang publik semisal peradilan dan transportasi.

Semua jaminan hak itu, hanya akan kita peroleh dalam kehidupan Islam. Semua kemuliaan dan penghormatan itu, hanya dapat kita nikmati dalam naungan sistem kehidupan Islam. So, ngapain dukung Miss World? Karena Miss World, bikin hidup makin ruwet!


 
::. Allhamdulillah dan Selamat atas diterimanya Ananda di PTN Favorit : Fatimah Alifha (SMAN 6 Bogor, diterima di IPB - Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat) -- Milenia Tadhita SNR (SMAN 3 Bogor, diterima di Unpad – Psikologi) -- Muhammad Rahman Amrullah (SMAN 3 Bogor, diterima di ITB – FTTM) -- Raja Mula Teguh Wirandio (SMAN 3 Bogor, diterima di UI - Teknik Industri) -- Rifky Khoeruddin (SMAN 3 Bogor, diterima di IPB - Teknologi Pangan) -- Shabrina Shaliha (SMAN 3 Bogor, diterima di UI - Pendidikan Dokter) -- Silke Ramadhani Tresnatri (SMAN 3 Bogor, diterima di UI – FKG) -- Syifa Amalia (SMAN 3 Bogor, diterima di UI – Farmasi) -- Ivana Calista Brata (SMAN 1 Bogor, diterima di UI - Administrasi Niaga) -- Muhammad Reinaldi (SMAN 1 Bogor, diterima di Unpad- Televisi dan Film) -- Abiyu Muhammad Akmal (SMAN 1 Bogor, diterima di UI - Sistem Informasi) -- Annisa Ayu Saputri (SMAN 3 Bogor, diterima di UNPAD - Kedokteran Gigi) -- Farah Miranti Farizi (SMAN 1 Bogor, diterima di UNPAD - Pendidikan Dokter) -- Farih Afdhahul Ihsan (SMAN 5 Bogor, diterima di IPB – Manajemen) -- Karima Putri Mahdiyah (SMAN 1 Bogor, diterima di IPB – Agribisnis) -- Vanessa Zahra (SMA Dwi Warna Bogor, diterima di UNPAD – Kedokteran Gigi) -- Vicky Pratiwi (SMAN 3 Bogor, diterima di IPB – Teknologi Industri Pertanian) -- Alyssa Nadira Salsabila (SMAN 1 Bogor, diterima di IPB - Kedokteran Hewan) -- Yanathifal Salsabila (SMAN 9 Bogor, diterima di UI – Manajemen) -- Andini Putri Salma (SMAN 3 Bogor, diterima di UI – Vokasi Komunikasi) -- Annisa Aniza (SMAN 2 Bogor, diterima di IPB – Sekolah Bisnis) -- Ayu Batari (SMAN 5 Bogor, diterima di UNPAD – Ilmu Kesejahteraan Sosial) -- Chanisiyah Lintang (SMAN 2 Bogor, diterima di UI – Kimia) -- Hafizah Putri Ramadhani (SMAN 2 Bogor, diterima di UNPAD – Agribisnis) -- Khalisha Farhanan (SMAN 5 Bogor, diterima di UI – Ilmu Komunikasi) -- Lazuardi Ilyasa  Iskandar (MAN 2 Bogor, diterima di UNPAD – Ilmu Hukum) -- Milenia Ihsanti Suwarna (SMAN 2 Bogor, diterima di IPB – Agribisnis) -- Natsumi Jati Putri (SMAN 5 Bogor, diterima di UI – Manajemen) - Syelin Pratika Sanindita (SMAN 5 Bogor, diterima di UI – Sastra Korea) -- Aditya Taufiq R (SMAN 2 Bogor, diterima di IPB – Manajemen) -- Tissa Willavia (SMAN 1 Bogor, diterima di UNPAD – Pendidikan Dokter) -- Vida Zinia Putri H (SMAN 3 Bogor, diterima di UI – Teknik Kimia) -- Andina Eka Prihertanti (SMAN 1 Cibinong, diterima di UI - ) -- Risyad Pangestu (SMAN 1 Bogor, diterima di UNPAd – Teknik Informatika) -- Ika Keumala Fitri (SMAN 1 Bogor, diterima di ITB – MIPA) -- Milka Zahra Cholilla (SMAN 1 Cibinong, diterima di UI – Perpajakan) -- Muhammad Fauzan (SMAN 2 Cibinong, diterima di UI – Akuntansi) -- Abimanyu Prabaswara (SMA Labschool Rawamangun, diterima di UI – Manajemen KI) -– Ariani Bakhitah (SMAN 54 Jakarta, diterima di UI – Kimia) -- Ariq Dmitri Andrei (SMA Labschool Rawamangun, diterima di UGM – Hubungan Internasional) -– Muhammad Berdauno (SMA Labschool Rawamangun, diterima di UGM – Bisnis) – Nadira Syafira (SMA Diponegoro 1, diterima di UI – Perumahsakitan Vokasi) -- Nurul Syafithri (SMAI  Al Azhar 1 , diterima di ITB – FMIPA) -- Adinda Hasna Rahmadia (SMA Labschool Rawamangun, diterima di UI – Bahasa dan Kebudayaan Korea) - Maharani Apta C. (SMAN 11 Jakarta, diterima di UI – Sastra Cina) – Altezza (Sevilla Gloal School, diterima di ITB – FMIPA) -- Farros Ahmadi Praja (Khalifa International Islamic School, diterima di ITP – FTTM) -- Muhammad Rustam (-, diterima di UI – Manajemen) -- Fitria Ghaisani (SMAI Al Azhar 4, diterima di ITB – SBM) -- Ghina Rabbani Wasito (SMAI Al Azhar 4, diterima di UNPAD – Ilmu Politik) - Nathalia Syafira (SMAI Al Azhar 4, diterima di UNPAd – Film dan Televisi) -- R. Arif Adi Nugroho (SMAI Al Azhar 4, diterima di ITb – SBM) -- Sallimatu Diniyah (SMAI Al Azhar 4, diterima di UNPAD – Ilmu Perpustakaan) – Satrio (SMAI Al Azhar 4, diterima di UNPAD – Ilmu Ekonomi Islam) -- Wydiana Tri Destiawati (SMAI Al Azhar 4, diterima di UNPAD Ilmu Pemerintahan) -- Amal Adiguna (SMAN 82 Jakarta, diterima di UI – Ilmu Komputer) -- Arnindito Rizhandi (SMAN 70 Jakarta, diterima di UI – Teknik Kimia) -- Dzaki Ridho (SMAI Al Azhar 3, diterima di UI – Teknik Perkapalan) -- Farras Yoga Purnama (SMAN 99 Jakarta, diterima di UI – Teknik Kimia) -- Ivan Prakasa Dharmawan (Global Mandiri, diterima di ITB – FTSL) -- Monic Provi Dewinta (SMAN 48 Jakarta, diterima di UI – Ilmu Administrasi Fiskal) -- Salsa Fadhillah (SMAN 78 Jakarta, diterima di UI – Teknik Elektro) -- Farah Fabriana (SMAN 34 Jakarta, diterima di UI – Arsitektur) - Raniah Amirah S (SMAN 34 Jakarta, diterima di UI – Sastra Jerman) -- Anisa Farisdayanty (SMAN 5 Bekasi, diterima di UI – Akuntansi D3) - Eka Yusmeiliana K (SMA PB Soedirman, diterima di UI – Perumahsakitan) -- Muhammad Alif Firdi D (SMA Darussalam Cikunir, diterima di IPB – Ilmu Teknik Perkapalan) -- Tiara Ariake Shalsabila (SMA PB Soedirman, diterima di ITB – SITH) -- M. Syauqi (-, diterima di IPB – Argobisnis) – Tsabita (-, diterima di IPB – SITH) -- Larasati Dwi Rizqiqa (SMA President School Jababeka, diterima di UNPAD – Ilmu Hukum) -- Ferzadela Haniza Y (SMAN 1 Bekasi, diterima di UI – Administrasi Asuransi dan Aktuaria) -- Mochamad Racka Nugroho (SMAN 1 Bekasi, diterima di UI – Teknik Industri Internasional) -- ARHAM RIZKY ATHALLAH (-, diterima di ITB – FTMD) -- Farhan Aditya Wibowo (SMAN 68, diterima di UI – Teknis Mesin) -- Syifa Amirta Sani (SMAN 3 Bogor, diterima di UI – farmasi) -- Naufal Ihsan Kamal (SMAN 34 Jakarta, diterima di UI – Teknik Mesin) -- Sarah Aminah Kherid (SMAN 2 Tangsel, diterima di UI – Farmasi) -- Ashkia Nur Yasyifa (-, diterima di UI) -- Putri Shabrina (MAN 13 Jakarta, diterima di IPB Kimia) -- Jasmine Humaira (SMAN 3 Depok, diterima di UI – Teknik Kimia) -- Naura Nafisha (SMAN 2 Depok, diterima di UI – Ekonomi) -- Amara Thifaal Nadhira (SMAN 2 Depok, diterima di UNPAD – Ilmu Hukum) .::