Gimana ya biar saya gak mudah merasa insecure?
insecure

Bagikan :

Insecure adalah kondisi saat kamu merasa tidak aman. Bisa karena kamu merasa malu, merasa kekurangan, merasa bersalah, merasa orang lain selalu lebih hebat, atau merasa tidak mampu. Intinya kamu merasa tidak percaya diri terhadap diri dan hidup kamu. Ada yang ngalamin?

Terus saya harus gimana dong jika dalam posisi ngerasa insecure?

Sebenarnya, merasa insecure itu adalah hal wajar jika memang gak sering kamu rasakan. Ya sebagai manusia wajar dong punya rasa gugup atau ngerasa kurang pede dengan suatu kondisi tertentu. Namun, kalau ini berlarut-larut. Yo bisa jadi masalah besar.

Yuk, simak Tips biar kamu dari insecure jadi pandai bersyukur.
  1. Tanamkan pada diri, kehidupan ini tidak abadi. Ada akhirat kelak yang menanti. Apakah ke syurga atau ke neraka. So, jika ada orang yang membuat kita insecure, maka, bersabar lah. Terus fokus melakukan apa yang terbaik untuk meraih SyurgaNya.
  2. Tidak ada manusia jaman sekarang ini yang sempurna. Kamu termasuk saya, pasti punya kekurangan. So, terima kenyataan, dan belajarlah mencintai diri sendiri apapun kondisinya.
  3. Fokuslah mengembangkan kepribadianmu, ketimbang fokus merutuki kekurangan mu. Buktikan pada mereka, bahwa kamu bisa sukses, insya Allah. Ingat, Kita tidak bisa membuat senang semua orang.
  4. Dalam hal dunia, selalu lihat kebawah. Ada orang yang tidak seberuntung kita. Ada mereka yang bisa melihat, bisa mendengar, bisa berbicara, bisa berjalan adalah sebuah keajaiban. So, lebih baik perbanyak bersyukur.
  5. Mintalah kepada Allah dengan sabar dan solat. Apapun masalahnya, kepada Allah lah mengadu solusinya.

Semoga sharing ini bermanfaat ya.

Buat ingin tahu program belajar di Bimbel Bintang Pelajar boleh banget kunjungi website kami berikut : Bimbel Islami Bintang Pelajar

 

Ditulis oleh Imam Lutfi

Artikel Lainnya

Persiapkan dirimu untuk menjadi pejuang SNBT tahun ini! 🔥

X

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda yang artinya,

“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.

HR. Bukhari, no. 1901

24 Ramadhan 1445 H

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,

“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni.”

HR. Ahmad

29 Ramadhan 1445 H

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء

“Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.” 

HR. Ath Thoyalisi

28 Ramadhan 1445 H

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ – يَعْنِى لَيْلَةَ الْقَدْرِ – فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِى

“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia ditimpa keletihan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa.”

HR. Muslim

27 Ramadhan 1445 H

“Siapa yang menghadiri shalat ‘Isya berjamaah, maka baginya pahala shalat separuh malam. Siapa yang melaksanakan shalat ‘Isya dan Shubuh berjamaah, maka baginya pahala shalat semalam penuh.

HR. Muslim no. 656 dan Tirmidzi no. 221

26 Ramadhan 1445 H

Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata:

“Wahai seorang yang telah menyia-nyiakan umurnya dalam perkara yang tidak bermanfaat; perbaikilah apa yang sudah berlalu pada malam lailatul qadar, karena beribadah satu malam padanya sama seperti (beribadah) seumur hidup.”

Lathaiful Ma’arif hal. 272

25 Ramadhan 1445 H

Do’a Lailatul Qadar

للَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ’ANNII (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf—menghapus kesalahan–, karenanya maafkanlah aku—hapuslah dosa-dosaku–).”

HR.Tirmizi dan yang lainnya

23 Ramadhan 1445 H

Yahya bin Mu’adz pernah berkata,

ليس بعارف من لم يكن غاية أمله من الله العفو

“Bukanlah orang yang arif (bijak) jika ia tidak pernah mengharap pemaafan (penghapusan dosa) dari Allah.”

Latha-if Al-Ma’arif, hlm. 362-363

22 Ramadhan 1445 H

Dikatakan oleh Imam Malik dalam Al-Muwatha’, Ibnul Musayyib menyatakan,

“Siapa yang menghadiri shalat berjamaah pada malam Lailatul Qadar, maka ia telah mengambil bagian dari menghidupkan malam Lailatul Qadar tersebut.”

Latha-if Al-Ma’arif, hlm. 329

21 Ramadhan 1445 H