Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu โanhuma, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
โDi antara jenis-jenis pohon itu ada satu jenis pohon yang tidak berguguran daunnya, pohon itu bagaikan sosok orang Islam. Sampaikanlah kepadaku, pohon apa itu?โ Kemudian para sahabat menyebutkan nama-nama pohon di daerah pedalaman.
Abdullah bin Umar mengisahkan, โLalu dalam hatiku tebersit bahwa pohon yang dimaksud adalah pohon kurma, tapi saya malu mengatakannya.โ Para sahabat lalu bertanya, โPohon apa itu, wahai Rasulullah?โ Beliau menjawab, โItu adalah pohon kurma!โ (HR. Al-Bukhari).
Apa faedah-faedah terpenting dari hadis yang mulia ini? Dan apa pelajaran-pelajaran yang dapat kita petik darinya untuk membentuk karakter muslim yang ideal?
1. Analogi Pohon Kurma dan Seorang Muslim
Perhatikanlah pohon kurma, apakah kita dapat menghitung manfaat-manfaatnya? Pohon kurma memiliki manfaat yang banyak dan keistimewaan yang besar, di antaranya yang paling penting:
- Selalu hijau sepanjang tahun.
- Buahnya manis, lezat, dan mengenyangkan.
- Dapat dipakai sebagai tempat berteduh dari terik matahari.
- Memiliki bentuk yang indah dan kokoh.
-
Seluruh bagiannya proporsional, mulai dari batang, pelepah, daun, hingga buahnya.
(Kitab At-Tashwir An-Nabawi Lil-Qiyam Al-Kuluqiyah Wa At-Tasyriโiyyah Fi Al-Hadits asy-Syarif karya Ali Ali Subhi, hlm. 20).
Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam menggunakan metode perumpamaan terbalik dalam ilmu balaghah saat mengumpamakan pohon kurma dengan seorang muslim. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa seorang muslim memiliki kedalaman sifat maknawi dan akhlak yang jauh lebih mulia daripada sekadar benda konkret seperti pohon kurma.
Seorang muslim harus menjadi sosok yang kaya akan manfaat, rajin memperbanyak amal saleh, menghiasi diri dengan akhlak terpuji, serta menjaga diri dari perilaku tercela. Ditambah lagi, manusia dianugerahi akal dan syariat agama yang membuat dampaknya bisa dirasakan secara luas oleh lingkungan sekitar.
2. Meneladani Semangat Berbagi Kaum Anshor dan Sahabat Nabi
Terdapat banyak hadis yang menjelaskan indahnya akhlak dan karakter kaum Muslimin dalam mengutamakan orang lain. Dalam hadis riwayat Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu โanhu disebutkan kisah tentang seorang lelaki yang datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dalam kondisi kesulitan ekonomi.
Ketika para istri Nabi tidak memiliki apa pun untuk diberikan, seorang lelaki dari kaum Ansar dengan sukarela membawa tamu tersebut ke rumahnya. Meskipun di rumahnya hanya tersisa sedikit makanan untuk anak-anaknya, sang sahabat dan istrinya memilih untuk menidurkan anak-anak mereka lebih awal, mematikan lampu, dan menahan lapar malam itu demi memuliakan sang tamu.
Pada pagi harinya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda bahwa Allah Subhanahu Wa Taโala takjub dan rida atas pengorbanan mereka, hingga menurunkan firman-Nya:
โ…dan mereka mengutamakan (kaum Muhajirin) daripada diri mereka sendiri, meskipun mereka punya kebutuhan mendesak.โ (QS. Al-Hasyr: 9).
Karakter mulia ini juga tercermin dari sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu โanhu. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah bertanya dalam satu majelis tentang siapa yang hari ini berpuasa, mengantarkan jenazah, memberi makan orang miskin, dan menjenguk orang sakit. Seluruh amalan kebajikan tersebut secara konsisten dijawab oleh Abu Bakar radhiyallahu โanhu. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam lalu bersabda: “Tidaklah ini semua terkumpul pada seseorang melainkan ia akan masuk surga.”
3. Kisah Zaid Al-Khair: Cinta pada Kebajikan
Diriwayatkan dalam kitab Hilyah Al-Auliya karya Abu Nuaim, ada seorang lelaki yang menempuh perjalanan jauh selama sembilan hari demi bertanya kepada Rasulullah tentang tanda bahwa Allah mencintai seorang hamba. Lelaki itu awalnya bernama Zaid Al-Khail, namun Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengubah namanya menjadi Zaid Al-Khair (Zaid yang baik).
Zaid bercerita tentang kondisinya: “Aku memasuki waktu pagi dalam keadaan mencintai kebaikan dan para pelakunya serta orang yang mengamalkannya. Ketika aku berbuat baik, aku meyakini pahalanya, dan jika aku terlewat mengamalkannya, aku merasa sedih karenanya.”
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam lalu bersabda: โIni adalah tanda dari Allah Subhanahu Wa Taโala terhadap orang yang Dia cintai. Sedangkan tanda-Nya terhadap orang yang tidak Dia cintai adalah jika kamu menginginkan selain kebaikan, maka Allah memudahkanmu melakukannya, lalu Allah tidak peduli di lembah dosa mana kamu binasa.โ
Baca juga: Akhlak Muslim: Memahami Riyaโ, Pamer, Ujub, dan Sombong
4. Keteladanan Zainul Abidin bin Husain
Pelajaran berharga berikutnya datang dari cucu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, Zainul Abidin bin Husain. Semasa hidupnya, banyak masyarakat miskin di kota Madinah yang menerima pasokan makanan misterius setiap malam tanpa tahu siapa pengirimnya. Rahasia itu baru terungkap ketika Zainul Abidin wafat; bantuan pangan tersebut seketika terhenti, dan orang-orang menemukan bekas memar di punggung serta pundak beliau akibat bertahun-tahun memikul sendiri karung makanan untuk para janda dan fakir miskin di kegelapan malam.
Beliau juga dikenal memiliki kelembutan hati yang luar biasa. Suatu ketika, seorang budaknya tidak sengaja menjatuhkan kendi tanah liat hingga kaki Zainul Abidin terluka. Karena merasa takut, sang budak segera membaca potongan ayat Al-Qur’an:
โ…dan orang-orang yang menahan amarahnya,โ Beliau menjawab, โAku telah menahan amarahku.โ Sang budak menyambung, โ…dan memaafkan (kesalahan) orang,โ Beliau berkata, โAku telah memaafkanmu.โ Terakhir budak itu membaca, โ…Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.โ (QS. Ali Imran: 134). Mendengar hal itu, Zainul Abidin berkata, โPergilah, kamu sekarang merdeka karena Allah!โ
5. Muslim yang Ideal: Satu Tubuh yang Saling Peduli
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad dari Nuโman bin Basyir Radhiyallahu โanhuma, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menegaskan prinsip persaudaraan ini:
โPerumpamaan kaum Mukminin dalam rasa cinta, kasih sayang, dan kepedulian mereka seperti satu tubuh. Apabila ada anggota tubuh yang sakit, seluruh tubuh akan turut merasakan tidak bisa tidur dan demam.โ (HR. Ahmad).
Sebagai bagian dari satu tubuh keimanan, kita tidak boleh menutup mata terhadap penderitaan sesama Muslim, termasuk saudara-saudara kita di Gaza, Palestina. Jangan sampai rutinitas harian membuat kita abai terhadap perjuangan mereka.
Tunaikan peran terbaik kita untuk membantu mereka; baik melalui untaian doa yang tulus, menyisihkan sebagian harta, hingga ikut serta menyebarkan berita dan edukasi mengenai kondisi mereka di media sosial atau di tengah keluarga. Sekecil apa pun kontribusi yang kita berikan, insyaallah akan menjadi saksi kebaikan di hadapan Allah Subhanahu Wa Taโala.
Ya Allah, berilah pertolongan bagi para hamba-Mu di Palestina, mudahkanlah urusan mereka, terimalah ikhtiar mereka, dan karuniakanlah keselamatan serta ampunan-Mu.
Disusun oleh :ย Divisi Pembinaan Akhlak Pegawai dan Pelanggan Bintang Pelajar
Sumber: www.alukah.net



