fbpx

Kaidah-Kaidah dalam Mendidik Anak 2

Kaidah-Kaidah dalam Mendidik Anak 2

Bagikan :

— Lanjutan dari Part.1 —

Baca PART 1 Kaidah dalam mendidik anak

Mendidik anak adalah kewajiban orangtua. Karena itu, sebagai orangtua yang baik kita harus mendidik anak mereka dengan baik sedari dini. Karena Imam al-Ghazali mengatakan: “Anak yang sedari kecil ditelantarkan, biasanya tumbuh dengan akhlak yang buruk. Menjadi anak yang suka berbohong, dengki, suka mencuri, suka mengadu domba, suka meminta-minta, dan suka mengerjakan hal yang sia-sia. Hal itu hanya bisa dicegah dengan pendidikan yang baik.”

 

8️⃣Jadilah Orangtua Teladan

Di salah satu kota kecil di Cina para guru wanita meminta para murid yang masih kecil untuk membawa kantong plastik kecil saat pergi dari rumah menuju ke sekolah setiap pagi. Kemudian mereka meminta para murid untuk mengumpulkan sampah di sepanjang jalan dan memasukkannya ke dalam kantong plastik yang mereka bawa. Akhirnya kota kecil itu pun berubah menjadi kota yang bersih.

Sudahkah kita mendidik anak-anak kita untuk memanfaatkan kantong plastik yang kita sediakan di mobil dan memasukkan sampah ke dalamnya ketimbang membuangnya ke jalan?

 

9️⃣Kapan semestinya Anda  mengatakan ‘tidak’ kepada buah hati Anda?

Selalu memenuhi keinginan anak adalah kekeliruan. Akibatnya anak beranggapan bahwa dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan. Hingga akhirnya dia tidak bisa memilih mana yang bermanfaat dan mana yang tidak.

Dan saat dia dewasa, dia mudah marah, depresi, dan stres manakala keinginannya tidak terpenuhi.

Saat anak meminta sesuatu, perhatikanlah apakah permintaannya tepat atau tidak. Jika tepat, silakan dipenuhi. Jika tidak, tolaklah dengan baik.

Saat anak Anda sudah mengerjakan PR kemudian meminta izin untuk bermain, izinkanlah. Karena itu adalah permintaan yang tepat.

Saat anak Anda minta dibelikan mainan yang baru, padahal 3 hari yang lalu Anda sudah belikan, katakanlah kepadanya, “Insya Allah ibu belikan sebulan lagi ya, Nak.” Dan berusahalah untuk memenuhinya di waktu yang ditetapkan.

Menjelaskan penolakan Anda terhadap permintaan anak dapat menjaga kasih sayang antara Anda dengan buah hati, menyembuhkan kekecewaannya, dan memahamkan anak bahwa Anda tetap menghargai dan memahami keinginannya.

Saat Anda menolak keinginannya, selain menjelaskan alasannya Anda juga harus berusaha memberikan pilihan alternatif.

Saat sang anak ingin pergi ke rumah si A yang Anda tidak sukai akhlaknya, Anda bisa katakana; “Kenapa kamu tidak pergi ke rumah si B? Akhlaknya lebih baik daripada si A.”

Saat Anda menolak untuk membelikan mainan A yang tidak sesuai dengannya, Anda bisa katakan; “Mainan B ini lebih baik daripada mainan A itu.”

 

baca juga : Sayangi ayah dan ibumu melalui menjaga lisan dan sikapmu

 

🔟Berilah sentuhan kasih sayang!

Ketahuilah bahwasanya anakmu membutuhkan belaian kasih sayangmu. Ketahuilah bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa melakukannya.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radliyallahu anhu bahwasanya dia berkata; “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam senantiasa mengunjungi kaum Anshar, mengucapkan salam kepada anak-anak mereka, mengelus kepala mereka, dan mendoakan kebaikan bagi mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 5778.)

Saat anakmu bangun dari tidur, usaplah kepalanya. Saat anakmu hendak pergi sekolah, peluklah dengan penuh kasih sayang. Saat anakmu pulang ke rumah, ciumlah keningnya dan tepuklah punggungnya seraya menanyakan aktifitasnya di sekolah. Saat anakmu beranjak ke tempat tidur, peluklah dan ciumlah kembali keningnya.

Abu Hurairah radliyallahu anhu meriwayatkan; “Suatu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mencium al-Hasan bin Ali (cucu beliau). Saat itu al-Aqra’ bin Habis tengah duduk di dekat beliau. Al-Aqra’ pun berkata; ‘Aku memiliki 10 orang anak. Namun tak seorang pernah kucium.’ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun menatapnya dan bersabda; ‘Orang yang tidak mengasihi orang lain tidak akan dikasihi.’”(HR. Al-Bukhari no. 5554.)

 

1️⃣1️⃣Stop membanding-bandingkan!

Sebagian orangtua beranggapan bahwa dengan membandingkan si A dengan si B dapat memotivasi si A. Namun anggapan itu keliru. Membanding-bandingkan anak hanya akan menjatuhkan mental sang anak dan menimbulkan kebencian terhadap saudaranya.

 

1️⃣2️⃣Jagalah perasaan anak pertama saat adiknya lahir!

Anak pertama biasanya cemburu kepada saudaranya yang baru lahir. Sebab perhatian orangtuanya yang dulu dia dapatkan kini beralih kepada adiknya. Untuk mencegah kecemburuan itu perlu dilakukan tindakan preventif dan persuasif.

Anda bisa memberitahunya akan kehadiran sang adik. Anda juga bisa sampaikan bahwa Anda berdua berpikir untuk memiliki anak lagi karena Anda menilai sang kakak adalah anak yang baik yang siap memperlakukan adiknya dengan baik. Selain itu, Anda juga bisa melibatkannya untuk memilih baju baru untuk sang adik dan mempersiapkan kamar tidurnya. Di samping itu, Anda juga harus meyakinkan bahwa tak ada seorang pun yang dapat menggeser posisinya di hati Anda berdua.

 

1️⃣3️⃣Saat buah hati Anda merusak mainan, itu bukan karena dia perusak.

Anak kecil terlahir dalam keadaan tidak memahami apapun. Jangankan memahami akibat suatu perbuatan, memahami perbuatan itu benar atau salah pun belum bisa dia lakukan.

Saat dia menyiksa anak burung dan bergembira karenanya, jangan dipahami bahwa dia menikmati penyiksaan yang dia lakukan. Namun pahamilah bahwa dia belum mengetahui makna kasih sayang dan apakah anak burung itu kesakitan atau tidak.

Saat dia merusak mainannya, jangan dipahami bahwa dia seorang perusak. Pahamilah bahwa dia sedang mengembangkan rasa ingin tahunya.

 

1️⃣4️⃣Ayah yang pelit Vs ayah yang boros.

Sebagian ayah dicap pelit. Tidak mau memenuhi kebutuhan primer sang anak karena ingin menabung. Sebaliknya sebagian ayah dicap boros. Selalu memenuhi permintaan sang anak.

Kedua tipe ayah ini bukanlah tipe ayah yang baik. Sebab anak yang dibesarkan oleh ayah yang pelit diprediksikan tumbuh menjadi anak yang boros. Dan anak yang dibesarkan oleh ayah yang boros diprediksikan tumbuh menjadi anak yang tidak pandai menghargai sesuatu.

Semoga artikel ini bermanfaat dan semoga Allah senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita dalam mendidik anak-anak kita.

Referensi:

Kaifa Turabbî Abnâaka fî Hâdza az-Zamân?

 

Disusun oleh:

Dede Rahman Saleh (Konsultasi Keislaman BP)

(deras.atstsurayya@gmail.com)

Artikel Lainnya